Diperlukan Pendidikan Pencetak Pemimpin

Banjarmasin Post, Rabu, 02 Juni 2004 02:13

Oleh A Fatih Syuhud *

Kualitas istimewa adalah tujuan paling dituntut oleh institusi pendidikan yang mapan maupun baru. Kalangan perencana pendidikan saling memikirkan berbagai jalan dan cara, untuk mencapai kualitas istimewa yang menjadi dasar dari kredibilitas dan akseptabilitas institusi bersangkutan.

Pertimbangan ini sangat esensial bagi peningkatan level performanya dari dalam institusi dan pengakuan yang lebih besar dari luar. Sejumlah besar institusi yang ada di Indonesia, sedang mengalami krisis kredibilitas. Umumnya, yang menjadi ‘kambing hitam’ adalah pengajar atau dosen.
Kualitas kepemimpinan juga sering dipertanyakan. Di seluruh dunia, pertanyaan yang sering dimunculkan adalah ‘Kemana perginya para pemimpin?’ Konteks persoalannya, tidak selalu bersifat politis.

Dalam tataran praksis, setiap negara mengeluh bahwa
kualitas kepemimpinan di berbagai sektor telah
memburuk dalam paro akhir abad ke-20. Keluhan tidak
memberikan solusi. Diperlukan analisis yang matang.
Ekspansi pendidikan global dan berbagai hal yang
berkaitan dengannya, membutuhkan kepemimpinan yang
berkomitmen, berdedikasi dan tahan uji. Tidak setiap
bangsa dapat beruntung memilikinya.

Integritas personal termasuk pemahaman diri dan
kematangan, akan memotivasi secara berkesinambungan.
Seorang pemimpin sejati tidak pernah berbohong pada
dirinya sendiri dan tidak pernah bangga dengan pujian
kosong yang diarahkan kepadanya oleh kroni dekatnya.
Ia sendiri lebih memahami dari apa ia dibuat dan lebih
mengerti kemampuan mentalnya yang ia temukan dalam
proses yang belum terlatih. Objektivitas dalam membuat
keputusan atas pemikirannya sendiri, pencapaian dan
kegagalan akan tampak. Individu semacam itu tidak akan
pernah mengorbankan prinsip dan ide personal, hanya
demi menyenangkan yang lain. Mereka yang
mengompromikan nuraninya, tidak akan pernah bisa
menjadi pemimpin sejati.

Tekanan politik merupakan rintangan terbesar yang
hanya dapat dihadapi oleh pemimpin profesional sejati.
Mereka yang tumbuh dalam kepemimpinan, juga tumbuh
dalam kejujuran dan komitmen. Mereka selalu belajar
dengan penuh dedikasi dan memiliki nalar observasi
tinggi. Figur yang selalu mempercayai orang lain dan
yakin bahwa ‘kepercayaan akan melahirkan kepercayaan’,
dapat membawa yang lain untuk menyepakati berbagai ide
dan inisiatifnya. Bahkan mereka yang tidak sepakat
dengannya, tidak segan untuk memberi apresiasi atas
komitmen dan kejujurannya.

Rudy Giuliani, walikota New York yang menangani krisis
11/9 pada 2001 menganalisa transformasi dirinya akibat
terjadinya tragedi itu, yang di luar dugaan. Ia
berhasil, karena kualitas kepemimpinan yang diasah
sebelumnya. Skenario ini dapat dipahami secara lebih
tajam dalam konteks pendidikan. Dapatkah kita
melupakan peran kepemimpinan Wahidin Sudirohusodo, KH
Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy’ari dan banyak lagi yang
lain di bidang pendidikan?

Salah satu konsen utama dalam dunia pendidikan adalah
menyiapkan orang-orang untuk menjalankan dan memimpin
insititusi. Prinsip dasar dari manajemen diajarkan di
sekolah bisnis, melalui materi pelajaran populer.
Sayangnya, program dan materi kepemimpinan dapat
mengembangkan skill, tetapi hanya secara parsial dapat
membantu dalam memperkuat karakter dan visi.
Sebenarnya, banyak program semacam itu malah tidak
menawarkan usaha ke arah sana.

Memang tujuan mereka yang utama adalah ‘memproduksi
manajer multinasional’. Siapa yang akan mempersiapkan
pemimpin? Institusi pendidikan tidak begitu
memperhatikan aspek ini. Terdapat perbedaan mendasar
antara pemimpin dan manajer. Memelihara status quo,
mengandalkan pada kontrol, mengikuti aturan secara
ketat, mengambil pandangan pendek, mengopi dan meniru
strategi serta pendekatan orang lain bukanlah
kepribadian seorang pemimpin. Poin ini dapat menjadi
poin plus bagi manajer; khususnya bagi mereka yang
lebih percaya pada ‘presentasi’ daripada ‘kemajuan’.

Setiap individual memiliki potensi, energi dan
kekuatan yang tak terbatas. Mereka yang dapat
menyadari, memelihara, memproyeksi dan mengungkap hal
ini secara luas akan menjadi pemimpin. Bibit proyeksi,
ekspresi dan manifestasi ini dipupuk di sekolah dan
bahkan sebelum itu, di dalam keluarga dan komunitas.

Akan tetapi, peran pendidikan tetaplah kritikal. Ia
memerlukan pengertian yang lebih intens pada abad
ke-21 ini, di mana pendidikan tidak lagi terbatas pada
seperempat pertama kehidupan seseorang. Kebanyakan
institusi pendidikan kita yang mempersiapkan tenaga
pengajar, sampai saat ini hanya membuat sekolah dan
perguruan tinggi untuk pelatihan. Dengan demikian, ini
bukanlah ‘mendidik’ anak didik untuk menjadi guru
tetapi hanya melatih mereka.

Mengapa sistem pendidikan kita tidak dapat menciptakan
pemimpin sejati di berbagai sektor? Peran seorang guru
secara tradisional merupakan pemimpin sebuah
komunitas, petunjuk dan mentor. Guru saat ini
‘dilatih’ secara profesional. Pelatihan biasanya tak
mempedulikan pendekatan induktif, eksplorasi,
inisiatif, fleksibilitas, alternatif dan imajinasi.

Konsekuensinya, ia kurang dalam mendidik keterbukaan,
sintesis dan proses. Fokus dalam pelatihan lebih
ditekankan pada fakta, arah, stabilitas, kekakuan,
aturan dan tujuan jelas. Apabila mereka yang
mempersiapkan tenaga pengajar masih sadar akan
perbedaan antara pendidikan dan pelatihan, maka mereka
akan mendidik kepemimpinan dengan cara lebih halus dan
pelajar akan lebih memahami keperibadian mereka
sendiri.

Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik
Agra University, India

2 tanggapan untuk “Diperlukan Pendidikan Pencetak Pemimpin

  1. Manusia sudah ajalinya ditakdirkan oleh Tuhan sebagai khalifah di dunia ini, berati ia mengurus/memimpin, minimal untuk DIRInya sendiri agar ia TahU diri, namun yang tren sekarang berlomba2 untuk jadi PEMIMPIN tapi tak taHU Diri, rata2 hanya terfokus pada 2K=Kedudukan dan Kekayaan, masa bodoh dengan orang lain, buru2 lingkungan dan jauh2 Negaranya.

    Semoga tulisan singkat mas Fatih ini bisa dijadikan bekal, masukan, motivasi bagi yg membacanya.

    Wassalam…

    Suka

  2. Tapi tidak semua orang ingin menjadi pemimpin, aq rasa. Mungkin karena kurang diberi motivasi juga saat mengikuti suatu institusi pendidikan. Tapi kemauan itu penting. Seperti aq yg gak pernah bosan mencoba mengimprove blog dengan memperkaya diri dengan ilmu2 terkini. Aq gak OOT kan?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s