Benturan Peradaban dan Kontra Terorisme

WASPADA Online 21 Apr 04

Oleh A Fatih Syuhud *

Apabila dunia tidak sedang melaju menuju benturan peradaban (clash of civilizations), maka sedikitnya telah terjadi pengkaburan distingsi antara gereja dan negara di AS dan mendorong umat Islam untuk mempercayai keunggulan Yahudi Israel di dunia, yang sangat merugikan Islam.

Ada dua fenomena yang mengarah pada asumsi di atas yang terwakili oleh jenderal bintang tiga AS Letjen William G. Boykin dan mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad.

Letjen William G. Boykin, seorang pejabat penting di departemen pertahanan AS, mendapat restu untuk memproklamirkan, sering dalam seragam militer, di sejumlah gereja Kristen bahwa musuh riil AS bukanlah Osama bin Laden tetapi Setan.

Baru-baru ini, ia mencontohkan keyakinannya dengan merujuk pada seorang pejuang Muslim Somalia dengan menyatakan: “Tuhanku lebih besar dari Tuhannya. Aku tahu bahwa Tuhanku adalah Tuhan yang riil, sedang Tuhannya hanyalah patung”. Barangkali sang jenderal berpikir tidak ada salahnya menyatakan hal-hal provokatif semacam itu di era Presiden George Bush, yang sering menggambarkan dunia sebagai sebuah medan peperangan antara kebaikan dan kejahatan, bahkan awalnya Bush menggambarkan “perang melawan teror”-nya sebagai perang salib.

Menteri Pertahanan AS Donald Rumsfeld menolak untuk mengecam pernyataan-pertanyaan sang jenderal, yang telah dibujuk supaya minta maaf. “Aku bukanlah seorang fanatik juga bukan seorang ekstrimis,” ujarnya.

Tetapi seorang jurubicara Americans United for Separation of Church and State mengatakan, “Seseorang yang menilai tindakan kebijakan AS sebagai perang agama Kristen hendaknya tidak membuat kebijakan apapun.”

Di sisi dunia yang lain, mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad berpidato di pertemuan puncak Organisasi Konferensi Islam (OKI). Ia menyatakan: “Selama lebih dari setengah abad kita telah berjuang untuk Palestina. Apa yang telah kita capai? Tidak ada.” Ia menyerukan umat Islam untuk berpikir, bukan hanya marah dan marah. Dan mengajak umat Islam untuk meniru langkah Yahudi: “Orang Eropa membunuh enam juta Yahudi dari total jumlah Yahudi yang berjumlah 12 juta, tetapi saat ini Yahudi menguasai dunia. Mereka dapat mengatur bangsa lain untuk berperang dan mati demi mereka… Kita tidak pernah menghargai individu Muslim yang berpikir. Yahudi dapat bertahan dari pembunuhan massal selama 2000 tahun bukan dengan membalas dendam tetapi dengan berpikir. Mereka dapat mengontrol negara-negara yang paling kuat dan mereka, komunitas kecil ini, menjadi sebuah kekuatan dunia.”

Pesan yang ingin disampaikan Mahathir Mohamad jelas: Menjawab perlakuan Israel di tanah pendudukan Palestina dan di Israel bukanlah dengan bom bunuh diri, tetapi hendaknya dengan cara merenungkan dan merancang sebuah strategi koheren. Otak, bukan dengan kekuatan fisik, adalah motto Mahathir.

Sayangnya, kontroversi yang tercipta dari pidatonya tentang Yahudi telah menenggelamkan pesan utamanya, khususnya di dunia Barat. Dapat diduga, juru bicara Israel menganggap komentar Mahathir itu sebagai anti-Semit; dan mudah ditebak, reaksi AS juga senada, seperti dikatakan juru bicara Gedung Putih, “Kami melihat pernyataan Mahathir sebagai penghinaan dan cemooh.” Menlu Italia menganggap pidato itu sebagai “sangat ofensif” dan kalangan diplomat Malaysia di London dan Berlin dipanggil menghadap kantor departemen luar negeri masing-masing negara itu untuk menerima protes keras.

Mengapa Barat seperti disengat kalajengking oleh komentar Mahathir soal Yahudi yang notabene hanya bagian kecil dari keseluruhan pidatonya? Yahudi-Kristen telah membuat apa yang disebut dengan teologi Holocaust, merujuk pada berbagai ragam penderitaan yang dihadapi Yahudi di tangan kaum Nazi Jerman. Oleh karena itu, Barat memberlakukan suatu kode etik. Siapapun dapat mengeritik Israel dan rakyat Israel, tapi jangan mengeritik Yahudi. Pada waktu yang sama, Israel mengeksploitasi sejarah tragis mereka itu dengan cara menyamakan berbagai kritikan atas negara Israel dengan anti-Semitisme.

Tentang berlindungnya kaum Yahudi di bawah ketiak negara adi daya satu-satunya, setiap orang tahu level kekuatan dan kekuasaan apa yang dinikmati kalangan lobi Yahudi dalam mempengaruhi Gedung Putih dan Parlemen AS, kendati tidak banyak pemimpin dunia yang berani bicara terang-terangan seperti Mahathir.

Pidato terakhir Perdana Menteri Mahathir di depan pertemuan dunia sebelum dia mengundurkan diri pada akhir Oktober itu mengundang sambutan meriah (standing ovation) dari hadirin yang terdiri dari berbagai pemimpin dunia, termasuk kalangan aliansi AS sendiri seperti penguasa Qatar yang negaranya digunakan sebagai markas besar utama militer AS untuk operasi Perang Irak.

Para hadirin tampaknya kurang memahami reaksi Barat atas pidato Mahathir, mungkin karena mereka tidak terbebani rasa bersalah kolektif atas tragedi Holocaust seperti yang dialami Barat.

Kata-kata kontradiktif dari Letjen Boykin dan Mahathir Mohamad mencuatkan pertanyaan yang lebih luas atas apa yang terjadi di dunia kontemporer. Di era kemajuan teknologi canggih ini, mestikah kita kembali pada perang agama seperti dulu?

Apabila sekularisme Barat, di mana AS sebagai benteng utamanya, mulai dilanggar, bagaimana dunia dapat mempertahankan ide pemisahan gereja dan negara pada agama dan lingkungan lain? Dan apabila kecenderungan negara dibentuk berdasarkan agama semakin meningkat, bagaimana hal ini dapat direkonsiliasikan dengan sistem negara-bangsa dewasa ini?

Melihat fenomena Amerika saat ini, tampak jelas kondisi politik Amerika semakin ramah pada kalangan fundamentalis agama. Hubungan antara neokonservatif yang mendominasi pemerintahan Bush dan kalangan pendukung evangelist Kristen sayap-kanan, khususnya di Selatan, sudah umum diketahui.

Presiden George Bush sendiri digambarkan sebagai seorang Kristen yang terlahir kembali. Kalimat yang sering dipakai Bush pun sering membuat kalangan sekuler khawatir. Perubahan sikap Bush ini semakin tampak terutama pasca tragedi 9/11, pengalaman traumatis yang ikut membantu gerakan kebangkitan agama.

Poin yang perlu digarisbawahi dari paparan di atas adalah bukan fundamentalisme Islam saja yang perlu dikuatirkan. Banyak fundamentalisme lain, termasuk fundamentalisme varian dari Kristen, yang semakin banyak dipraktikkan di AS. Dan dalam beberapa aspek, fundamentalisme Kristen memiliki ancaman yang lebih besar karena posisi Amerika sebagai negara adi daya tunggal. Apabila sang jenderal yang sedang aktif memegang jabatan wakil menteri pertahanan untuk intelijen dapat memerankan dirinya sebagai crusader, maka ia dapat mempermainkan Konstitusi Amerika. Dan apabila Konstitusi dan aturan hukum tidak lagi diagungkan, bagaimana Amerika dapat mengibarkan bendera demokrasi di Timur Tengah dan dunia?

Pertanyaan di atas mendesak untuk segera dijawab. Apabila AS mengenakan pakaian misionaris Kristen hanya untuk mengkonversi dunia, maka AS sedang mencari masalah.

Pemerintahan Bush telah menyalurkan energinya mencoba meyakinkan dunia bahwa perangnya melawan teror bukanlah perang atas Islam. Usaha AS ini tidak akan berhasil apabila presidennya sendiri selalu berbicara untuk memerangi negara-negara poros setan dan jenderalnya melihat dunia sebagai panggung di mana diri mereka adalah para malaikat yang sedang menumpas Setan.

* Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik, Agra University, India.

Satu tanggapan untuk “Benturan Peradaban dan Kontra Terorisme

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s