Islam-Fobia dan Rasisme Demokrasi Sekuler

WASPADA Online 24 Apr 04

Oleh A Fatih Syuhud *
Islamfobia di Barat menjadi semakin terlembaga pasca tragedi WTC. Kelompok HAM (hak-hak asasi manusia) sudah membunyikan bel peringatan tentang adanya Islamfobia Barat ini. Para pakar HAM semacam Mary Robinson, mantan Direktur Komisi HAM PBB, telah mengecam ekspresi sentimen anti-Islam, anti-Arab, dan anti-Semit yang mengalami peningkatan di barat menyusul terjadinya tragedi WTC.

Robinson menyerukan masyarakat internasional untuk memerangi penyebaran Islamfobia, yang ia definisikan sebagai sebuah ketakutan obsesif atas Islam, dengan mengatakan bahwa fenomena ini telah menyebar secara luas di seluruh AS dan Eropa Barat.
Dalam konteks ini, masyarakat Muslim di seluruh dunia harus lebih aktif dalam mengkonter tidak hanya atas ketidakpedulian dan arogansi pihak-pihak yang secara sengaja menyebarkan Islamfobia. Pepatah mengatakan bahwa pertahanan terbaik adalah serangan yang solid. Hanya apabila umat Islam, korban Islamfobia, dapat membalik arah kampanye kebencian Barat ini, perubahan dramatis dapat terjadi atas niat penghinaan yang disengaja terhadap Islam dan Muslim, seperti yang sudah terjadi pada kalangan Afrika-Amerika ketika mereka memulai kampanye “black is beautiful” atas opresi rasisme anti kulit hitam yang terlembaga di AS.

Seperti kita tahu, Islam adalah agama yang dipeluk oleh lebih dari 20 persen penduduk dunia dan terekspresikan melalui banyak budaya. Kalangan Barat harus belajar bahwa Islam tidak hanya teman tetapi juga punya andil tidak kecil atas kebangkitan Barat.

Baru-baru ini, Council on American Islamic Relations (CAIR) yang berbasis di Washington menuntut permintaan maaf dari majalah sayap kanan AS ‘National Review’ karena menganjurkan kepada pemerintah AS supaya mempertimbangkan sebuah serangan nuklir ke Makkah, kota suci Islam yang berlokasi di Saudi Arabia. Rich Lowry editor majalah tersebut mengatakan dalam forum online-nya, “Banyak pendapat yang menginginkan AS untuk menuklir Makkah”.

Lowry mengatakan bahwa tempat-tempat yang paling memungkinkan untuk serangan pertama nuklir AS adalah dua negara yang mayoritas penduduknya Muslim: Iran dan Irak (dan itulah yang sedang terjadi saat ini pada Irak). “Apabila kita berhasil mengebom tempat-tempat itu dengan akurat dan menimbulkan kerusakan hebat, kota Gaza dan Ramallah (daerah Palestina yang diduduki Israel) juga bisa dimasukkan dalam daftar,” ujar Lowry.

Di samping itu, seorang penulis lain Anne Coulter di majalah ‘National Review’, menyarankan: “Kita hendaknya menginvasi negara-negara Muslim, membunuh pemimpin-pemimpin mereka dan mengkonversi umat Islam.”

Reverend Franklin Graham, yang ayahnya, Billy Graham, juga seorang misionaris evangelis dan menikmati akses penuh ke Gedung Putih sejak tahun 1950-an, mengatakan tahun lalu bahwa Islam “adalah agama yang sangat jahat dan licik”.

Graham senior mengatakan hal serupa tentang Yahudi dalam sebuah percakapan dengan mantan Presiden AS Richard Nixon pada 1972, menurut sebuah rekaman yang dirilis oleh National Archives. Dia tidak mau mengakui komentar yang dia buat sejak rekaman itu dirilis untuk publik.

Monal Saidan, pakar Timur Tengah warga negara Inggris, mengatakan dalam bukunya Muslim’s Guide to Islamaphobia (London, 2003), “Ideologi sangatlah penting. Seluruh tindakan baik dan buruk dimulai dari sebuah ide dalam pikiran manusia. Islam adalah satu-satunya ideologi yang mengajak dan memberlakukan kebijakan untuk bertindak adil walaupun seandainya sikap adil ini tidak dalam kepentingan individual untuk berbuat demikian. Sekularisme modern mengajarkan dan melakukan hal yang sebaliknya, dan sejarah telah menunjukkan hal ini”.

Adalah sangat mudah bagi publik untuk dipengaruhi oleh emosi tinggi, kebencian dan stereotipe tanpa pengkajian serius atas fakta-fakta historis. Tantangan terbesar bagi manusia modern adalah mengikuti metode pemikiran independen. Dengan peralatan canggih semacam propaganda dan media massa kita telah menyaksikan dalam sejarah modern bagaimana negara-negara barat secara kejam telah mengecap seluruh ras, bangsa dan kelompok etnis.

Apakah Islamfobia barat mewakili bangkitnya bentuk terbaru dari neo-fasisme? Bagaimana perang global melawan terorisme dilakukan dengan tanpa definisi yang jelas tentang apa terorisme itu atau hanya dengan mengatribusikannya hanya pada satu kelompok agama tertentu? Kristiani, Yahudi dan bahkan sekularisme sama-sama memiliki organisasi teroris yang kebanyakan dari gerakan ini telah mentarget kalangan sipil Barat. Pertanyaan yang tak kalah menarik adalah mengapa kebebasan sipil tercerabut hanya oleh adanya satu peristiwa teroris?

Dunia hendaknya peduli atas munculnya gelombang baru kebencian dan stereotipe barat terhadap seluruh komunitas Islam karena ini mengingatkan kembali pada demokrasi sekuler (plutokrasi) yang mendukung hukum-hukum rasis atau pemisahan komunitas seperti yang bisa dilihat pada kelompok-kelompok semacam suku Aborigin Australia. Belum lagi kalau kita lihat peristiwa yang sangat menyayat yang terjadi di Guantanamo Bay dan profiling yang dilakukan di AS atas warga Arab-Amerika dan lainnya.

Mengapa demokrasi sekuler selalu mengikuti pola diskriminasi rasial? Menurut Saidan sekularisme merupakan ideologi berbahaya yang dapat menyebabkan kematian dan kehancuran yang lebih dibanding ideologi lain dalam sejarahnya yang relatif masih pendek. Darwin mengusulkan bahwa ‘bertempur untuk hidup’ (fight for survival) juga berlaku pada ras manusia. Menurut klaim ini, ras unggulan akan menang dalam pertempuran itu. Ras unggulan, dalam pandangan Darwin, adalah kulit putih Eropa. Ras Afrika atau Asia tertinggal jauh dalam pertempuran untuk hidup ini. Menurut Darwin lagi, ras-ras non unggulan akan segera kalah total, dan kemudian akan lenyap sama sekali. “Dan pada periode yang akan datang (tidak sampai satu abad), ras manusia ‘beradab’ (baca, Barat) hampir dipastikan akan menggantikan dan melenyapkan ras-ras manusia ‘biadab’ di seluruh dunia”, demikian ujar Darwin dalam tulisannya yang berjudul “The Preservasion of Favored Races in the Struggle of Life”.

Darwinisme yang ide-ide tidak saintifiknya masih disebarkan oleh kalangan akademisi barat sebagai fakta, sebenarnya merupakan basis pandangan kejam sekularisme atas co-eksistensi umat manusia.

Apakah semua kebencian dan stereotipe atas Islam atau Islamfobia ini akan berujung pada akan terjadinya kejahatan atas kemanusiaan oleh kekuatan barat sekuler dalam waktu dekat? Kecuali langkah-langkah drastis untuk memerangi Islamfobia ini segera diambil, maka saya kuatir jawabannya adalah: Ya.

* Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik, Agra University, India.

Satu tanggapan untuk “Islam-Fobia dan Rasisme Demokrasi Sekuler

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s