LSM, Kaki Tangan Imperialisme?

08 Jun 04 WASPADA Online

Oleh A Fatih Syuhud *

Sejumlah laporan intelijen AS terbaru menunjukkan
bahwa Ahmad Chalabi– yang selama ini menjadi anak mas
Washington di Irak– adalah seorang agen ganda, yang
secara rahasia bekerja untuk Iran. Hal ini tampak
sebagai sebuah usaha AS untuk menemukan kambing hitam
sebagai sebuah alibi atas kegagalan perang Irak.
Dengan pemilu presiden yang semakin dekat dan
peringkat Presiden George W. Bush yang semakin
menurun, ia membutuhkan kambing hitam. Chalabi,
seorang muslim Syiah, dipersalahkan telah menyesatkan
pemerintahan Bush, sebelum penyerangan, tentang
realitas lapangan di Irak yang dikuasai Sunni agar
supaya dapat membuka jalan pengambilalihan oleh Syiah
dukungan AS. Dan Iran, yang mayoritas Syiah, secara
aktif dimanfaatkan Chalabi untuk memuluskan rencananya
sendiri.
Hal ini tampak seperti sebuah skenario meyakinkan di
mana kita diharapkan untuk percaya bahwa Amerika
memang bermaksud untuk melengserkan rejim Saddam
Hussein. Adalah mungkin bahwa Chalabi mempunyai
agendanya sendiri dan tidak hanya sebagai kaki tangan
AS. Namun demikian, tentunya dia selalu berada di
bawah pengawasan kalangan spionase. Apabila mereka
tidak mengetahui berbagai fakta, maka hal ini
memunculkan sejumlah pertanyaan serius tentang
kredibilitas jaringan mata-mata AS, yang notabene
terkaya dan tersebar di seluruh dunia. George Tenet,
direktur CIA (Central Intelligence Agency), sedang
dalam posisi terjepit dan kemungkinan akan dipecat
kendatipun seandainya Bush terpilih kembali.

Counterpunch, sebuah newsletter portal Amerika,
membeberkan bahwa sejumlah LSM di seluruh dunia yang
didanai AS berfungsi sebagai instrumen untuk
menyebarkan misi kebijakan AS di negara lain.
Menghubungkan kudeta yang terjadi baru-baru ini di
Georgia dengan operasi semacam itu, penulis Jacob
Levich dalam artikelnya “When NGOs Attack” menunjukkan
bagaimana agen-agen semacam itu “saat ini secara
terbuka terintegrasi dalam keseluruhan strategi
Washington untuk mengkonsolidasi supremasi global”.
Mengutip laporan dari Departemen Luar Negeri sebagai
pendukung, Levich mengklaim bahwa sejumlah LSM yang
tampak tidak berbahaya saat ini sedang memainkan peran
penting dalam kebijakan “perubahan rejim” rekayasa AS,
yang telah digariskan dalam National Security Strategy
(NSS).

Levich menuding organisasi United State Agency for
International Development (USAID) sebagai link utama
dalam pendanaan badan-badan pengembangan dan ratusan
organisasi lain yang terlibat dalam kerja sosial. Di
samping itu, terdapat sejumlah thinktank yang didanai
oleh asing. Kebanyakan dari organisasi ini perlu
dibedakan dari LSM murni yang “tidak dikontrol oleh
biro kebijakan luar negeri AS”. Pandangan kritis ini
didukung oleh sebuah laporan USAID, bahwa “Bantuan
Asing adalah demi Kepentingan Nasional: Mempromosikan
Kebebasan, Keamanan dan Peluang.” Dipublikasikan pada
Januari 2003 tetapi sama sekali tidak diketahui oleh
negara-negara terkait, dokumen itu menyatakan bahwa
program pengembangan akan ditingkatkan guna “mendorong
reformasi demokrasi.”

Singkatnya, dana-dana yang masuk ke berbagai LSM ini
dimaksudkan untuk mendukung kepentingan AS di
negara-negara penerima dana. Inilah imperialisme
dengan wajah baru yang artifisial, karena ia berkedok
kegiatan sosial, dan sulit dilarang karena mengandung
agenda yang tampak bermanfaat. Banyak kelompok
kebijakan dan aktivis pro-perubahan menjadi bagian
dari jaringan ini, yang sering menjadikan pemerintah
sebagai patner strategis. Cara semacam itu
memungkinkan LSM mendapatkan dana besar, termasuk
dalam hal ini, George Soros, milyarder Amerika asal
Hungaria, yang menjadi salah satu sumber dana.

Laporan itu juga menyatakan bahwa bantuan semacam itu
akan menjadi investasi masa depan, ketika perubahan
politik memberikan kekuasaan riil pada kalangan
reformis. Bagaimana strategi semacam ini berjalan?
“Bantuan dapat diberikan pada kalangan reformis untuk
membantu mengidentifikasi siapa yang akan menang dan
akan kalah, membangun koalisi dan strategi mobilisasi,
dan mendesain berbagai usaha publisitas”. Termasuk di
dalamnya rencana tipu daya yang berliku untuk
mengacaukan negara-negara yang akan membahayakan
kepentingan ekonomi AS.

Sering terjadi, sebagaimana di Irak, operasi itu
dilakukan di bawah kedok institusi kebijakan
demokrasi. Chalabi dan kawan-kawan, yang dididik
Washington, terbukti sangat bermanfaat karena telah
memberikan alasan bagi koalisi pimpinan AS untuk
menyerang Irak. Pada waktu itu, tidak ada keraguan AS
dan media Barat atas integritas mereka. Akan tetapi
saat ini, mereka dihempaskan karena dianggap merugikan
AS. Pemimpin Al Qaidah Usama bin Ladin juga dibesarkan
oleh kepentingan Amerika. Akan tetapi sang
Frankenstein itu sekarang mengancam akan menghancurkan
tuannya.

Dari berbagai fakta di atas, pemerintahan Megawati dan
juga pemerintahan di bawah presiden terpilih yang baru
nantinya hendaknya berhati-hati terhadap berbagai dana
asing yang mengalir ke berbagai LSM apapun. Dan
hendaknya berpikir dua kali sebelum melunakkan
aturan-aturan yang berkaitan dengan dana asing.
Karena, tidak diragukan lagi bahwa gerakan-gerakan
sosial kemasyarakatan saat ini menjadi senjata
imperialisme yang paling efektif.

* Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik
Agra University, India.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s