Pertemuan G-8 dan Agenda Surealisme Amerika

WASPADA Online 24 Jun 04 02:12 WIB

Oleh A Fatih Syuhud *

Ada nuansa surealisme di pertemuan kelompok G-8 negara-negara
industri di Amerika Serikat (AS). Presiden George W. Bush mengantongi
resolusi DK PBB secara bulat. Dan negara-negara transatlantik yang
saling bermusuhan, utamanya antara AS dengan Prancis dan Jerman,
mencoba untuk saling berbaikan.

Momentum meninggalnya Ronald Reagan telah memberikan motivasi baru
bagi Presiden Bush untuk menikmati cap Republikanisme dengan
mengklaim warisan patron Republikan modern. Dan kendati resolusi DK
PBB telah memberikan kemenangan bagi AS atas poin substantif
penolakan ide sebuah veto Irak atas aksi dan pertanggungan jawab
pasukan Amerika, Irak tetaplah masih dalam kondisi kacau.

Secara esensial, Presiden Bush terpaksa mengadaptasi desain besarnya
dengan realitas dan perlunya mencegah Irak menjadi Vietnam kedua.
Akan tetapi kendati dia melakukan kebijakan untuk menarik mundur
pasukan Amerika dari Irak secepat mungkin, Bush tetap berbicara
dengan nada seorang moralis dengan tujuan untuk menarik konstituen
evangelic-nya di AS, tetapi pada yang sama telah membuat dunia
menganggap sikapnya itu sebagai hipokrit.

Rencana besar yang pernah jadi impian Bush yaitu Greater Middle East
Initiative (GMEI) – yang melingkupi Timur Tengah plus Pakistan dan
Afghanistan – saat itu muncul sebagai sebuah harapan atas terjadinya
reformasi demokratik di mana AS berfungsi sebagai patronnya. Oleh
karena itu, tampak sangat aneh melihat kalangan pemimpin negara-
negara yang pro Amerika seperti Mesir, Saudi Arabia dan Kuwait
menolak undangan Bush ke pertemuan G-8 di Georgia.

Kendati kalangan pemimpin Eropa menampakkan sikap ramah, akan tetapi
ketidaksepakatan transatlantik masih jauh dari usai. Presiden Prancis
Jacques Chirac kembali membuktikan sebagai representasi dari suara
logika dan kewarasan. Ia tidak melihat perlunya keterlibatan pasukan
NATO di Irak – dengan merujuk pada usulan AS untuk memfungsikan NATO
dalam memberi pelatihan pada pasukan Irak – dan Chirac lebih berpihak
pada kalangan yang skeptis yang meragukan nilai atau keefektifan
pemaksaan sistem demokrasi ala Amerika ke dunia Arab. Bahwa AS
dianggap mengikuti preseden para pemimpin besar dunia masa lalu
tampak agak naif mengingat sikap Presiden Bush yang berbicara
meyakinkan tentang poros setan dan kemenangan kebaikan atas kejahatan.

Akan tetapi, adalah kelemahan Eropa dan dewan Uni Eropa (UE) yang
terpecah sehingga G-8 melegitimasi proposal memalukan tentang
pencabutan perkampungan Israel di Jalur Gaza. Sudah jelas bagi Eropa
dan banyak negara lain bahwa kesepakatan Presiden Bush pada inisiatif
Israel Raya-nya Ariel Sharon, yang menggiring bangsa Palestina
menjadi budak-budak di tanah mereka sendiri, tidak akan membawa
perdamaian di kawasan itu dan hanya akan mencoreng citra dan
kredibilitas Amerika yang mengklaim akan menyebarkan demokrasi.

Harapan AS adalah, dengan adanya penyerahan kekuasaan pada dispensasi
interim Irak yang direstui PBB (walau dengan berbagai protes
signifikan), Irak dapat melaju pada sebuah era baru berupa
pemerintahan yang walaupun anarkis tapi berfungsi. Dengan demikian,
pemerintahan Bush dapat memproklamasikan kemenangan dan menarik
mundur pasukan Amerika secara terhormat.

Akan tetapi tidak akan ada jawaban bagi Irak atau Timur Tengah secara
umum apabila dihadapkan pada pertanyaan riil. Dengan pengecualian
Prancis, yang menuntut Amerika agar dapat melihat realitas dunia –
rakyat Inggris via pemilu lokal telah mengatakan pada Tony Blair apa
yang mereka pikir tentang kebijakan Irak-nya – terdapat sedikit
pemimpin atau negara yang berminat mempertanyakan kebodohan Amerika.
Dalam penunjukan sikap oportunisme, Kanselir Jerman Gerhard Schroeder
sibuk memperbaiki hubungan dengan Bush.

Tuntutan usaha terpilihnya kembali Bush membuatnya menjadi bersikap
lembut sementara pada waktu yang sama mempertahankan retorika
religiusnya guna menyenangkan konstituen domestiknya. Sebagai Nasrani
yang terlahir kembali, dia mungkin percaya akan privelese dapat
berkomunikasi langsung dengan Tuhan. Tidak ada seorang pun yang dapat
berargumen dengan seorang pemimpin yang memiliki komitmen kuat
terhadap agama dan keperkasaan negaranya seperti penghuni Gedung
Putih saat ini. Pemujaannya pada Ronald Reagan mengandung makna
signifikan secara politis karena Reagan seorang komunikator besar
yang telah merubah pola pikir bangsa Amerika ke arah kanan, akan
tetapi usaha Bush untuk membuat Reagan sebagai tanjakan utama
politiknya jelas terlalu berlebihan.

Pada tahap tertentu, Bush beruntung – dengan harapan bahwa semua
permasalahan akan berakhir dengan baik, setelah semua tragedi pasca-
invasi Irak. Dia dapat merujuk pada beberapa gebrakan yang dia
lakukan – kesepakatan bulat DK PBB tentang Irak, terciptanya
pemerintahan interim Irak dan sambutan diam-diam kalangan pemimpin
Arab terhadap pemerintahan baru yang akan menduduki kursi kekuasaan,
setidaknya dalam teori. Setelah dilecehkan secara masif, PBB kembali
dimanfaatkan AS sebagai pelaku esensial di Irak karena jangkauan
atensi Amerika sangat terbatas, kendati PBB biasa dimanfaatkan dalam
berbagai kebijakan pasca Perang Dunia II termasuk dalam mengalahkan
Jerman dan Jepang. Pada saat itu, keperkasaan militer Amerika
bukanlah berat sebelah dan tradisi lama dalam menyebarkan kebaikan
melalui kekuasaan dengan cara yang bersahaja sedang menjadi trend.

Ironisnya, Presiden Bush memilih menafsiri semua peristiwa yang
terjadi untuk kampanye publik sebagai justifikasi atas berbagai
kebijakannya. Dia sebenarnya setengah percaya pada apa yang dia
katakan yang semua itu hanya untuk menjamin bahwa ketidaksepakatan
transatlantik tidak akan pernah berakhir. Pada masa berikutnya begitu
Amerika memilih kekuatan fisik tanpa provokasi atau konsultasi cukup,
maka kita akan menyaksikan konfrontasi baru.

Apabila Presiden Bush ingin terus membuktikan kebenaran dari adagium
Oscar Wildean bahwa tidak ada usaha yang dapat berhasil kecuali
dengan kekuatan eksesif, maka dunia akan berada dalam situasi yang
berbahaya. Namun demikian, ada sedikit prospek untuk dapat mengkonter
balik AS. Penggunaan terorisme oleh pemerintahan Bush akan menjamin
bahwa AS akan tetap berada dalam jalur kanan neokonservatif. Harapan
tipis dari dunia adalah bahwa ongkos yang mesti dibayar AS dalam
menjalankan kebijakan agresifnya akan sangat mahal sehingga
diharapkan akan mencapai tahap yang di luar kemampuan AS untuk
menanggungnya pada masa yang lama.

Secara historis, AS selalu dan sering mendapatkan jalan dan cara baru
untuk membalik berbagai kesalahan dan blunder yang dilakukannya,
seperti pada era McCarthy atau berbagai fantasi yang ditimbulkan oleh
perang Vietnam. Bedanya saat ini adalah setelah tragedi 9-11, Amerika
merasa secara fisik rentan dan rapuh dan kalangan neokonservatif
memiliki agenda mereka sendiri untuk memelihara perasaan rentan
rakyat Amerika ini.

* Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Agra University,
India.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s