Real-Politik Dalam Tubuh PBB

WASPADA Online 04 Mei 04

Oleh A Fatih Syuhud *

Jarang terjadi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa (DK PBB) begitu gamblangnya dieksploitir untuk alasan politik domestik seperti yang terjadi ketika ia mengadopsi Resolusi 1530 pada 11 Maret 2004. Dalam resolusi itu, yang disepakati secara bulat, DK PBB mengecam, “sekeras-kerasnya atas serangan pengeboman di Madrid, Spanyol, yang dilakukan oleh kelompok teroris ETA pada 11 Maret 2004, yang memakan banyak korban jiwa dan luka-luka, dan menganggap aksi semacam itu, seperti juga setiap aksi terorisme apapun, sebagai sebuah ancaman pada perdamaian dan keamanan.” Resolusi itu juga mendesak seluruh negara “untuk bekerja sama secara aktif dalam usaha untuk menemukan dan membawa pelakunya ke pengadilan, baik para pelakunya, organisasi maupun sponsor dari serangan teroris ini”.

Sejumlah ledakan di Madrid terjadi beberapa jam sebelum DK PBB bertindak dengan kesigapan yang belum pernah ditunjukkan sebelumnya dalam menangani situasi darurat yang lain. Cepatnya aksi DK PBB ini tampak sangat tidak layak, khususnya karena kondisi seputar peledakan itu sangat ambigu. Kita tentunya sangat berduka dan ikut bersimpati pada rakyat Spanyol atas terjadinya tragedi yang begitu meluluh-lantakkan dan tragis.

Akan tetapi, tidak ada satupun komunitas internasional, Pemerintah Spanyol sekalipun, yang yakin betul tentang identitas pelakunya. Setidaknya, otoritas di Spanyol cukup hati-hati untuk tidak menudingkan jari pada kelompok separatis Basque, ETA. Beberapa jam setelah tragedi itu, sejumlah suara terdengar, baik dari dalam Spanyol sendiri maupun dari luar, bahwa serangan itu merupakan operasi tipikal yang hanya mampu dilakukan Al Qaidah, dan bahwa ETA tidak memili ki keahlian atau catatan sejarah pernah melakukan aksi semacam itu.

Tidak diragukan lagi bahwa keterburuan yang membuat DK PBB mengadopsi resolusi itu adalah semata-mata dituntut oleh perhitungan politis belaka. Tuntutan paling besar bagi Pemerintah Madrid, tentunya, pemilu parlemen nasional, yang dijadwalkan tiga hari dari peledakan. Apabila rakyat Spanyol berkesimpulan bahwa ledakan itu ada hubungannya, kalau tidak seluruhnya, dengan dukungan Pemerintah atas, dan keterlibatannya dalam, perang melawan Irak, maka partai berkuasa akan menderita kehilangan dukungan dan kursi secara substantif dalam pemilu. Oleh karena itulah Pemerintah membuat langkah terburu-buru menuding ETA. Dukungan pemerintah atas pengerahan pasukan secara unilateral atas Irak, tanpa otorisasi DK PBB sangat tidak populer di Spanyol. Dengan demikian pemerintah memiliki kepentingan jelas dalam menggiring rakyatnya untuk percaya bahwa serangan teroris itu tidak ada kaitannya dengan situasi di Irak.

Bahkan seandainya ETA bertanggung-jawab atas aksi kejam ini, yang dalam sejarah masa lalunya tidak segan-segan terlibat dalam terorisme, tuntutan untuk memperoleh kecaman internasional secepat itu hanya dapat dijelaskan dalam konteks pertimbangan politis. Seandainya Pemerintah membiarkan rakyat merasakan kejutan tragedi itu dan membiarkan memori rakyat Spanyol menghilang begitu saja seiring berlalunya waktu, maka rakyat tidak akan menolak partai berkuasa dengan begitu hebatnya. Dengan melakukan taktik itu, Pemerintah Jose Maria Aznar telah menghancurkan peluangnya secara lebih meyakinkan dibanding seandainya ia bertindak lebih transparan.

Menjadi salah satu anggota DK PBB tentunya telah membantu Pemerintah Spanyol yang terguling untuk meloloskan resolusi itu. Yang menjadi pertanyaan mengapa anggota DK PBB yang lain ikut-ikutan bertindak terburu-buru? Jawabnya mungkin karena setidaknya sebagian anggota DK PBB memiliki kepentingan sebesar Spanyol untuk mengalihkan perhatian dunia dari Irak.

Bagimana dengan anggota DK PBB yang lain, yang tidak memiliki kepentingan yang sama? Memang sulit untuk tidak mendukung sebuah resolusi yang berkaitan dengan terorisme. Mereka mungkin percaya begitu saja atas informasi tentang keterlibatan ETA. Sekretariat PBB tidak berada dalam posisi untuk menawarkan pendapat apapun dalam situasi semacam itu, negara anggota membiarkan dirinya dituntun dan diyakinkan oleh mereka yang dipercaya berada dalam posisi lebih tahu. Mereka dapat dimaafkan, walaupun sedikit, karena adanya kompleksitas mereka dalam soal ini sehingga menyesatkan opini publik Spanyol. Tetapi semestinya mereka tahu bahwa mereka telah membuat preseden tidak sehat. DK PBB merupakan forum politik, bukan ruang pengadilan di mana preseden memiliki nilai mengikat.

Apabila para anggota DK PBB yakin akan keterlibatan ETA atas serangan itu, mengapa mereka dalam event tersebut sepakat dengan paragraf 3 dalam resolusi itu yang meminta seluruh negara anggota untuk bekerja sama secara aktif dalam menemukan dan membawa pelaku kriminal itu ke pengadilan? Apakah ETA dikenal memiliki sel dan infrastruktur teroris di seluruh penjuru dunia, seperti Al Qaidah?

Mengapa seluruh komunitas internasional harus peduli apabila terdapat sebagian atau sejumlah anggota PBB dapat menggunakan kekuasaan dengan cara ini? Jawabnya jelas, karena kredibilitas PBB menghadapi ancaman krisis setelah kejadian musim semi 2003 berkaitan dengan Irak. Adopsi Resolusi PBB 1530 pada 11 Maret 2004 dapat menimbulkan kerusakan parah pada proses merestorasi kembali otoritas organisasi internasional ini — yang saat ini sedang berjalan walaupun dengan agak lambat – dalam minggu-minggu terakhir, seperti terlihat dengan adanya seruan dari segmen-segmen berpengaruh masyarakat Irak meminta keterlibatan PBB dalam proses politik vital ke depan di negara yang cukup lama menderita itu. Pada tahap ini, Resolusi 1530 PBB menjadi penyebab kekhawatiran bagi semuanya. Kendati demikian, ada baiknya kita ingat pada fakta realpolitik bahwa pada analisis akhir, PBB tetap akan menjadi sebuah instrumen di tangan anggota-anggotanya, yang akan berusaha memanfaatkannya untuk tujuan nasional mereka tanpa terlalu banyak memikirkan isu kredibilitas dan prestise organisasi yang lebih luas.

* Penulis adalah mahasiswa pascasarjana Ilmu Politik Agra University, India.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s