Priayi Kampung dan Kosmopolit Egalitar

Priayi Kampung dan Kosmopolit Egalitar: Birokrat dan Mahasiswa
Oleh fatihsyuhud.com

Pada awal terjadinya bencana tsunami ada dua
pemandangan menarik dan sekaligus ironis.

Pemandangan pertama, ketika Perdana Menteri Singapura
Lee Hsien Liong, dengan pakaian lapangan terjun di
Meulaboh beberapa hari setelah bencana. Dia bergelayut
di tali yang diulurkan dari helikopter dan meluncur ke
darat untuk menolong rakyat yang kocar-kacir karena
ketakutan, dan dengan cekatan menyodorkan tangannya
yang halus untuk mengangkut mayat yang bergelimpangan
diterjang tsunami.

Pemandangan kedua, dari dalam negeri sendiri kita
menyaksikan pameran sikap priayiisme sementara pejabat
yang memberi kesan masa bodoh terhadap kesusahan kawan
sebangsa.

Menurut Martin Aleida (Kompas, 18/2/05) tindakan PM
Singapura itu menggambarkan sikap kosmopolitanisme,
yaitu kesadaran kosmopolit tentang ruang kehidupan,
bahwa kesengsaraan tetangga adalah penderitaan kita
juga, dan bahwa kita tak mungkin hidup dengan
membiarkan manusia lain tenggelam. Personifikasi
kosmopolitanisme dalam membantu Aceh yang berduka
kemudian tampil dalam diri pemimpin dunia yang lain:
Collin Powell, Kofi Annan; serta yang baru saja datang
ke Aceh: Bill Clinton dan George HW Bush Sr.

Sedang tindakan kedua yang dilakukan sementara pejabat
kita dalam kasus Aceh disebut dengan sikap priayiisme.
Priayiisme sebagai wahana kaum penjajah menindas
bangsanya sendiri selama ratusan tahun tercermin dalam
suasana bagaimana para punggawa negeri kita ini
bersikap di tengah-tengah rakyat yang sedang didera
bencana. Mereka tak bisa menunjukkan kesetiakawanan
dan empati, sekalipun dalam cara mereka berpakaian
ketika berada di dalam ruang dan waktu yang langsung
berkaitan dengan penderitaan rakyat.

Masih menurut Martin Aleida, penampilan fisik kaum
priayi, yang ingin menunjukkan kekuasaan di atas
kepala mereka yang tertindas, sudah menjadi warisan
yang kita terima dari sejarah, yang diteruskan oleh
para pemimpin Republik ini. Kemerdekaan ternyata tidak
dengan sendirinya membebaskan sikap kaum priayi yang
menjadi tangan kaum kolonialis menjajah bangsa ini.

Dan sudah menjadi aksioma atau tatanan sejarah jika
priayiisme yang menenggelamkan bangsa ini ke titik nol
kemanusiaan, maka kosmopolitanismelah yang
menyelamatkannya dari kenistaan.

***

Contoh dari pemandangan paradoks seperti di atas
berderet panjang dalam sejarah bangsa-bangsa terjajah.
Di India, ketika para raja-raja kecil menikmati
persekongkolan dengan penjajah Inggris, tampillah Anny
Besant, seorang perempuan Inggris, yang membela
mati-matian hak-hak rakyat jajahan dan mendirikan
Congress Movement yg kemudian menjadi payung gerakan
kemerdekaan tokoh-tokoh kemerdekaan India semacam
Mahatma Gandhi dan Jawaharlal Nehru. Warisan Anny
Besant itu saat ini menjelma menjadi Partai Congress
pimpinan Sonia Gandhi yang juga bukan keturunan India.

Di Indonesia, ketika kalangan priayi kraton dan
pamongpraja sibuk menjilat dan tunduk di bawah kaki
penjajahan selama tiga setengah abad, muncullah
Multatuli alias Dowes Dekker, seorang bule, yang
membela hak-hak rakyat terjajah dan menyadarkan rakyat
akan perlunya kemerdekaan.

Dalam konteks mahasiswa/masyarakat Indonesia di India,
sikap kosmopolitanisme egalitarian itu ditunjukkan
oleh Dubes Brunei di India yang saat terjadinya masa
krisis moneter di kita telah menyumbang secara
diam-diam untuk mahasiswa Indonesia di India sebanyak
dua lakh (200.000 rupees), sementara pada kurun waktu
hampir bersamaan seorang diplomat senior KBRI New
Delhi mengatakan dengan dingin di sebuah pertemuan:
“Mahasiswa tidak boleh cengeng hanya gara-gara krisis
moneter! Sabar dan tabahlah!”

Tidak perlu membantu, kalau memang tidak ingin
membantu. Tapi, di saat seperti itu, “ceramah” lebih
tidak diperlukan lagi. Ada momen-momen tertentu di
mana “nasihat yang indah” itu terdengar seperti suara
burung hantu.

Sikap “priayiisme kampung” (ini istilah saya untuk
mereka yang bersikap sok elit) yang biasa dilakukan
sebagian pejabat kita — dengan ciri tipikal selalu
ingin dihormati, pantang atau marah dikritisi, pelit
memberi bantuan tapi “dermawan” menghamburkan uang
untuk diri sendiri — harus dipahami oleh yang
bersangkutan sebagai sikap bawaan watak bawah sadar
priayi era aristokrasi kolonialisme dan diteruskan
pada era ORBA, yang berarti tidak relevan lagi
dilakukan di era ketika negara kita sedang tinggal
landas menuju demokratisasi di segala bidang; bukan
hanya dalam bidang politik tapi juga dalam
mentransformasi diri menuju sikap kosmopolit
egalitarianisme yang merupakan spirit demokrasi pada
invididu bangsa yang dapat melepaskan diri dari
mindset mental kuli.

Mahasiswa: Priayi Kampung atau Kosmopolit Egaliter?

Mahasiswa adalah penerus estafet bangsa masa depan,
baik sebagai bagian dari masyarakat maupun sebagai
bagian dari kekuasaan. Sebagai generasi muda yang
menjadi saksi sejarah transformasi bangsa–dari sistem
aristokrasi, tirani dan mental kuli menuju demokrasi
dan kosmopolit egalitarianisme–ada dua pilihan pola
pikir (mindset) dan pola bertindak di depan kita sejak
sekarang.

Pertama, priayiisme kampung (PK) yg ditandai dg sikap
hura-hura, mencintai having fun, tertutup pada kritik,
insensitif dan tidak peduli pada kesengsaraan dan
nasib rekan-rekannya serta cenderung membina hubungan
friendship semata berdasarkan keuntungan materi atau
status. Suatu sikap yang naif yang semata-mata
disebabkan oleh ketidakpahaman pada realitas hakiki
universal.

Kedua, kosmopolitanisme egalitarian dengan ciri
khasnya berupa sikap yang proporsional, luwes, humble
dan sederhana. Tidak suka “menghamburkan” uang hanya
untuk keperluan yang artifisial dan absurd sementara
akan jauh lebih bermanfaat kalau dana untuk
“main-main” itu digunakan untuk membantu rekan-rekan
asal Aceh yang sedang kesulitan finansial akibat
musibah yang menimpa keluarga mereka.

Mahasiswa India hendaknya memiliki determinasi tinggi
untuk memposisikan diri menjadi patron bangsa ini ke
depan seperti tokoh-tokoh kosmopolit egaliter dalam
diri Multatuli, Anny Besant, PM Singapura, dan
lain-lain. Supaya bangsa ini tidak selalu
menggantungkan diri pada pahlawan-pahlawan dari luar
sebagai ikon bangsa.

Kita telah banyak belajar dari kesalahan generasi masa
lalu. Pilihan ada di tangan kita. Dan pilihan apapun
yang kita pilih akan menentukan karakter kita ketika
sudah tiba saatnya kelak sumbangan dan kapabilitas
kita diperlukan oleh negara dan bangsa ini. Yang
berarti juga akan mewarnai dinamika bangsa ini di masa depan.[]

India, 27 Feb. 2005

Satu tanggapan untuk “Priayi Kampung dan Kosmopolit Egalitar

  1. Wah pak, mencerahkan sekali…

    Yang begini ini nih pengungkapan yang sebenar-benarnya mengenai priayi-priayi yang Indonesia punya.

    Seharusnya bapak-bapak berperut gendut itu baca artikel ini, jadi mereka inget kalo mereka berada di atas tuh melayani. Bukannya jadi penguasa yang tidur-tiduran dan pintar bicara.

    Jujur aja, saya sempat mengenal bapak-bapak yang berkecimpung di dunia priayi-an (alias pejabat). Entah yang sudah lama atopun baru-baru (maklum reformasi ternyata menghasilkan politikus karbitan juga tho ? :D). Tapi jujur aja, saya jadi malu dan gak bangga kenal mereka. Greedy, jadi penguasa toh untuk melayani bangsa bukannya bagi harta sama-sama. Tapi akhirnya saya tahulah, gak semua ‘priayi-priayi’ kita seperti itu. Mudah-mudahan, amin amin, masih ada yang ingat fungsi mereka sebagai pejabat bukan fasilitas yang mereka dapat. Hehe.

    Kita telah banyak belajar dari kesalahan generasi masa
    lalu. Pilihan ada di tangan kita. Dan pilihan apapun
    yang kita pilih akan menentukan karakter kita ketika
    sudah tiba saatnya kelak sumbangan dan kapabilitas
    kita diperlukan oleh negara dan bangsa ini. Yang
    berarti juga akan mewarnai dinamika bangsa ini di masa depan.

    Setuju sekali !
    Seharusnya bangsa Indonesia bangsa yang suka melihat sejarah masa lalunya, dimulai dari kaum mudanya. Kaum muda Indonesia seharusnya belajar dari sejarah, berkembang di masa sekarang, dan bervisi-misi untuk masa depan bangsanya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s