Dosen: Karir atau Pengabdian?

Karir DosenProfesi Dosen itu sebuah karir atau pengabdian keilmuan?

Sekitar dua tahun lalu saya bertemu dg seorang dosen di sebuah perguruan tinggi negeri di Indonesia (yg berarti PNS) yg hendak mengambil S3 di India. Saya banyak ngobrol banyak tentang berbagai hal, terutama yg bisa dibagi di sini adalah kehidupannya sebagai dosen.

Dia sudah bergelar master (MA) di luar negeri, menikah dan punya anak dua yg keduanya sudah sekolah SD. Karena gaji yg di PTN sangat pas-pasan (istilah eufemisme untuk kekurangan), dia juga mengajar di PT swasta di kota lain. Dari mengajar sana sini, hidupnya dan kebutuhan keluarga relatif tercukupi walau dg standar hidup yg sangat ketat. Masalahnya, kalau sekarang sudah pas-pasan, bagaimana dia nantinya dapat memenuhi kebutuhan anak-anaknya saat mereka memasuki jenjang pendidikan lebih tinggi yg biayanya makin lama makin mencekik leher?

Saya terharu mendengar ceritanya bahwa kedua anaknya yg sekolah SD tidak pernah dikasih uang saku buat jajan, mereka cuma dibekali kue buatan ibunya supaya ada camilan dan tidak terlalu iri melihat teman-temannya yg bisa jajan di sekolah. Jadi, kesimpulan dia, dalam soal uang saku, anak dia kalah sama anak TUKANG BENGKEL.

Kalah sama tukang bengkel? Saya terhenyak. Seorang sarjana yg berpendidikan S2 luar negeri bisa kalah cari uangnya dg tukang bengkel yg mungkin cuma lulusan SMA atau jebolah S1?! Saya kaget walaupun seperti biasa wajah saya tetap datar tanpa ekspresi saat mendengarkan cerita itu.

Akhir cerita, saya menyarankan pada rekan di atas untuk membuka usaha kecil-kecilan seperti buka toko atau warung untuk menjamin kehidupan anak-anaknya kelak.

Sementara itu, seorang rekan yg baru rampung pendidikan S2-nya waktu saya tanya rencana ke depannya menjawab dg lantang: “Mau jadi PNS!” Ketika saya tanya alasannya, dia menjawab, “Ikut pesan orang tua.”

Dua ilustrasi dua kisah nyata di atas menggambarkan sebuah fenomena menyedihkan dan siklus salah kaprah. Dalam hal ini saya tidak menyalahkan orang tua kita yg selalu menginginkan yg terbaik buat anaknya. Saya lebih cenderung menyalahkan si anak yg walaupun sudah berjenjang S2 tidak bisa kritis dalam memilih dan menentukan pilihan terbaik buat dirinya sendiri.

Mujazin, yg baru saja lulus S2 linguistics di Hyderabad University, bertanya pada saya apakah saya tidak tertarik untuk jadi dosen. Berikut jawaban saya dan sekaligus opini saya dalam soal ini:

1. Bagi saya menjadi dosen itu sebuah kewajiban. Salah satu cara mengaplikasikan ilmu yg didapat seorang sarjana S2 ke atas adalah dg mengajar. Di samping dg menulis buku, dll. Namun, saya menganggap dosen itu bukan pekerjaan. Dosen adalah sarana pengabdian dan sumbangsih kita pada (anak) bangsa melalui penyebaran pengetahuan yg kita dapat.

Memang, dosen mendapat gaji, tapi seorang sarjana S2 dan S3 yg mengandalkan kebutuhan hidupnya dari gaji dosen bagi saya adalah naif. Dan dalam konteks sosial, ini akan mengurangi motivasi yg lain untuk melanjutkan studi lebih tinggi. Anak tukang bengkel tadi jelas tidak akan termotivasi melanjutkan studi sampai S2 karena dilihatnya bapaknya yg cuma lulusan SLTA lebih pintar cari duit dibanding ayah temennya yg dosen.

2. Karena dosen atau peneliti itu bukan kerja, melainkan sarana mengabdikan ilmu, maka pemenuhan kebutuhan hidup harus melalui cara yg dilakukan seperti tukang bengkel tadi, tentunay kalau bisa lebih pintar lagi. Masak kalah sama tukang bengkel, sih? Berbagai usaha apa saja yg halal yg dapat memenuhi kebutuhan wajar dan kalau bisa berkelebihan untuk juga dapat menetes pada orang-orang di sekitar kita yg membutuhkan.

39 tanggapan untuk “Dosen: Karir atau Pengabdian?

  1. Karir dan pengabdian mestinya tak terpisahkan, dimanapun kita mnjalankan karir. Walau saya dulunya bekerja di lembaga keuangan (sekarang sudah pensiun), selain bekerja, saya tetap mentransfer ilmu, minimal kepada yunior, kepada klien, karena antara nasabah dan Bank, kinerjanya berhubungan sangat erat (jika nasabah gagal bayar, Bank nya akan hancur juga).

    Juga dalam hal ini, memantau nasabah, sekaligus menjadi konsultan, sama-sama belajar, mengatasi kesulitan yang muncul jika kondisi di lapangan tak sesuai dengan perencanaan semula.

    Disukai oleh 1 orang

  2. Waduh susahnya jadi dosen ya. Begini, mending ngajar aja di luar negeri, minimal ya Asean lah: Malaysia, Thailand,…dst. DI sana gajidosen bisa sampai sepuluh kali lipat daripada gaji di indonesia.

    Disukai oleh 1 orang

  3. Bismillahirrohmanirrohim….
    Assalamu’alaikum Wr Wb….

    Demi Rabb yang jiwaku dalam genggaman-Nya….
    Saya mohon……
    Tolong disebarkan…….!!!!!

    Jangan pernah takut masuk UI !!!
    Itulah hal yang selalu ingin saya camkan ke benak para putra-putri bangsa yang merasa dirinya minder alias kurang Pe De untuk masuk ke Universitas Indonesia karena keterbatasan ekonomi…..

    UI itu kampus rakyat, adikku…..

    Dari anak guru di banda aceh,
    Bocah kuli tambang di Belitong,
    Penjual pisang goreng di bengkulu,
    Putra kuli bangunan di Jakarta,
    Putri petani di brebes,
    Remaja Nelayan di pesisir papua,
    Atau bahkan seorang yatim-piatu di Makasar,
    Hingga seorang anak tunggal dari presiden direktur Astra Honda Motor…
    SEMUA berHak masuk UI !!!!!!!

    Modalnya Cuma satu !!
    Setelah mengantongi ijazah SMA, MA atau SMK.
    Kamu harus lulus SNMPTN, dan UMB bulan juni ini !!!!

    “Ah, untuk nyari makan aja orangtua ngos-ngosan… Gimana mau biayain kuLiah ???”
    Aku tahu, mungkin itu yang ada dalam benakmu sekarang….

    Tapi skarang saya balik tanya pada dirimu, apabila kamu sudah lulus SNMPTN di UI, dan telah datang hari dimana kamu harus daftar ulang di kampus UI depok, dan kamu tak membawa uang sepeserpun, Apakah KAMU akan diusir begitu saja dari tempat pendaftaran????

    Jawabnya adalah tidak……

    Kamu mempunyai modaL SK Rektor yang berbunyi bahwa tidak ada satupun mahasiswa yang KELUAR karena masalah faktor BIAYA !!!!!

    Jangan terlalu terpengaruh dengan MEDIA yang mengatakan bahwa UI itu mahal !!!!
    Karena para penentu kebijakan di atas sana (rektorat), itu mengetahui bahwa walaupun uang semesteran dinaikan 2 kali, 5 kali, 10 kali lipat pun, mahasiswa yang ingin masuk UI tetap saja banyak !!!!!

    Alhasil, jadilah UI kampus yang bernuansa borjuis. . . .

    Aku beri data yang valid yah…
    (ya Allah, tolonglah hambaMU ini, agar Rektorat tidak men-DO saya karena membocorkan informasi ini…..)

    Contohnya Fakultas TEKNIK (fakultas dimana saya kuliah sekarang….)

    43 % Calon mahasiswa FT angkatan 2007 tidak benar-benar membayar Uang pangkal sebesar 25 juta !!!!!!

    Dan saya ingin angka persentase ini dipertahankan atau bahkan harus cenderung naik !!!

    43% mahasiswa ini hanya membayar dengan variasi angka yang beraneka ragam….
    Dari nol (alias tidak membayar UP sama sekali), beberapa ratus ribu, beberapa juta, hingga sampai mendekati angka tertinggi (25 juta)……

    Tergantung dari kesanggupan ekonomi kalian…..

    Sedangkan 57 % sisanya adalah anak-anak yang patut mensyukuri hidup, karena mereka dilahirkan dari latar belakang keluarga yang berkecukupan…..

    Pada saat pendaftaran ulang, kalian akan dibantu kakak2 kalian dari kesma (kesejahteraan mahasiswa) BEM UI, untuk masalah pengadvokasian Uang pangkal ini…….

    Jadi, sok atuh…
    Datanglah beramai2 ke UI tanpa perlu masalah finansial menghalangi…..
    Raihlah cita2mu adik-ku…..

    Ambilah hak kalian untuk belajar di kampus yang menyandang nama negara kita ini…..

    “Oke…, stelah saya di terima di UI, bagaimana saya menyambung hidup ? Duit tidak punya, apalagi UI itu ada di Jakarta, jauh dari kampug…..”

    HIDUP itu Perjuangan, Bung !!!!
    Kamu bisa kuliah sambil kerja !!!!!!
    Bisa kerja sambilan sebagai guru privat, jualan nasi uduk, bisnis pulsa, dagang gorengan, supir taksi, dan masiiih banyak lagi……. Ini adalah proses pendewasaan kamu….. Kamu itu tidak sendirian dalam mengarungi hidup !!!
    Insya Allah kalau kamu memenejemen waktu kamu, kuliah kamu ga bakal keteteran dengan adanya kerja sambilan ini….
    Di jakarta ini banyak sekali ko peluang usaha dan perkerjaan sambilan yang terbuka buat kamu…..

    Simpanlah dalam hatimu….
    La tahzan !!
    Innalaha ma’ana….
    (jangan bersedih karena Allah bersamaku….)

    Oiya, mengenai uang semesteran (baik yg dapat 100ribu s/d 7.5 juta tergantung keadaan ekonomi) saya sudah bilang blom, klo di UI itu ada banyak Beasiswa…..

    Contohnya di Fakultas teknik ituh ada beasiswa
    – Eka tjipta Foundation
    – Mata Air Biru
    – Goodwill Internasional
    – Beasiswa Cendikia (AMIL ZIS UI)
    – Sampoerna Foudation
    – Qatar Internasional
    – Beasiswa Indosat
    – PPA dan BBM
    – Supersemar
    – Beastudi etos (dompet dhuafa)
    – KS4
    – Beasiswa Djarum
    – Co Op
    – Tanoto Foudation
    – Beasiswa Cocacola
    – Total E P
    – Beasiswa Bank Mayapada
    – Dan masi Banyak lagi deeeh, ini pun baru cuma dikit…..
    – Saya ga hapal, karena saya tidak bisa dibilang ‘scholarship seeker’ di kampus.
    – Jumlah kuotanya bisa mencapai ribuan mahasiswa dan tawaran selalu berdatangan dan terbuka sewaktu kita menjalani kehidupan kemahasiswaan…

    Pernah saya denger dari temen saya di Fakultas Hukum, kalau pegawai di bidang mahalum pernah menangis gara-gara mahasiswa yang melamar beasiswa lebih sedikit daripada kuota banyaknya beasiswa…….
    Udah tajir (kaya raya) semua kali mahasiswa di Fakultas itu,…. gak tau dah !

    Jadi, sekarang semua saya serahkan kepadamu adik-ku…..

    Beranikah kamu, untuk merubah hidupmu ???
    Demi ayah, bunda, kakak2, dan adik2mu…..
    Demi Semua warga di kampungmu…
    Demi semua orang2 yang kamu cintai……
    Jikalau Allah telah memberimu kecerdasan otak yang gemilang, sehingga kamu bisa melanjutkan belajar di jenjang yang lebih tinggi…..

    Kenapa kau harus takut ???

    Disukai oleh 1 orang

  4. jadi gaji bersih dosen berapa/bulan?
    masa iya ngga ada yg tau.
    di luar negeri tiap org tau berapa gaji orang lain. bahkan gaji bos nya juga.
    kudunya semua serba transparan. bayaran uang sekolah di indonesia termasuk tinggi, bahkan utk PTN. utk master di ptn sekitar 5-8 juta/semester. dgn duit segitu bisa ke universitas di singapur atau australie. bbrp negara di eropa universitas gratis, cuma bayar administrasi doang 2- 4 juta/thn (perancis, belgia, spanyol, scandinavia, luxemburg). sedangkan belanda, german, inggris, australi komersialkan PTN mereka dan bayar 10 jutaan/semester.

    jadi yg bikin universitas indonesia mahal itu apanya? kalo gaji dosen juga kecil, berapa kecilnya? gaji rektor berapa? duitnya lari ke mana, fasilitas PTN nya apa aja?

    Disukai oleh 1 orang

  5. Hemmm…sekarang saya udah jadi dosen,bukan dosen tetap sich tapi honorer. Terus terang aja penghasilan dari mengajar cuma buat “lucu-lucuan” aja. O’ya saya juga kerap menjadi dosen pengganti,maksudnya kalau ada dosen yang bolos mengajar,tentu saja dengan berbagai alasan.

    Yang jelas menjadi dosen itu mengasyikan lho….banyak suka dukanya,bahkan saya nyaris gak menemukan dukanya. Kalaupun itu dibilang duka,suatu saat saya kehujanan (gak ada payung pula…). Dengan sedikit berbasah ria saya masuk kelas,waktu itu saya mengajar sore hari. Nyambung sampe malem karena saya diminta menggantikan dosen lain yang gak bisa datang. Terakhir suara saya sampe serak. Mahasiswa saya keliatan antusias mendengarkan ocehan saya,ini yang menjadikan saya semangat. Di akhir jam perkuliahan saya agak deg-degan juga,soalnya kalau gak buru2 ngelarin perkuliahan saya pasti ketinggalan bus Transjakarta busway.

    Beneran lho…gaji mengajar saya cuma buat lucu-lucuan aja,sebagian besar honor yang saya dapat dari mengajar buat beli baju dan dasi. O’ya saya punya banyak koleksi dasi dari yang 20rb perak sampe yang ratusan ribu rupiah.

    Jadi dosen? kenapa gak???

    Disukai oleh 1 orang

  6. Ikutan komen ya.. saya dosen negri yang sekarang lagi S2 di Australia. Menyinggung masalah dosen yang katanya pas pasan tapi bisa kuliah di luar negri itu biasanya karena beasiswa. Seperti saya misalnya bisa kuliah di luar negri karena dapat beasiswa dari pemerintah Australia. Kalau hanya mengharap gaji dosen sampai kapanpun saya rasa sulit untuk dapat mendapat gelar master di luar negri. Profesi dosen kalau dilihat dari gaji memang cukup memprihatinkan. Banyak teman dosen yang juga kuliah s2 di sini nyambi kerja apa saja buat dapat duit dan bisa di bawa pulang ke indo. Kerjaanya dari jadi cleaner sampai buruh pabrik. Yang sagat ironis adalah bekerja bekerja 10 jam disini sudah melebihi gaji sebulan dosen negri di Indonesia.

    Disukai oleh 1 orang

  7. Menjadi dosen itu sebenarnya hobby aja untuk mengaplikasikan ilmu. Yang namanya hobby itu kan biasanya dilakukan dengan riang gembira, so anggap aja gaji kecil itu cemilan. Menyebarkan ilmu yang baik itu ibadah. Kalau urusan pemenuhan kebutuhan sih kembangkan dong you punya kreativitas. Hidup adalah sebuah imajinasi tanpa batas so tak akan hungry kok kalau kita kreatif.

    Disukai oleh 1 orang

  8. karier / pengabdian, tema itu jadi inspirasi buat aku. lalu… jika hidup memang pengabdian n ibadah, tp ada sesuatu yg tak bisa menunggu??!!!
    jika dalam karier mengambil 2 profesi yang berbeda antara pengabdian dan bisnis, mungkinkah???
    selalu tertanam dalam diri untuk menjalankan keduanya, tapi semua teman disekitar bahkan keluargaku tidak menganggap sesuatu yg mungkin. bagi mereka haruf fokus fokus fokus…
    lalu harus bagaimana atas keinginanku ini yg tak bisa padam atau memilih????

    Disukai oleh 1 orang

  9. @konsultan: tidak usah kuatir. kelompok yg anda sebut itu akan selalu ada. point saya adalah banyak orang dg skill tinggi dan sebenarnya punya ‘bakat’ jadi pengusaha tapi terbawa arus dan menikmati jadi kuli.

    mudahnya, mari kita lihat Chinese Indonesia. walaupun porsi pengusahanya banyak, banyak juga yg jadi karyawan dan dosen.

    pertanyaan penting: kenapa lebih banyak Chinese yg jadi pengusaha daripada pribumi? tentu banyak faktor tapi yg utama: mereka punya determinasi tinggi jauh lebih tinggi dari kita serta mau ambil resiko. dua hal yg pribumi tidak punya. ini poin introspeksi yg harus terus didengungkan ditelinga generasi muda. boleh jadi kuli dalam keadaan terpaksa. kita malah kebalik, alih2 terpaksa malah bangga. ini logika kurang normal dan gak universal. dan jangka panjang akan berbahaya. kalo mayoritas kita (pribumi) lemah ekonominya krn. hobi jadi kuli, itu hanya tunggu waktu untuk terjadinya kekacauan sosial karena kecemburuan pada minoritas. orang kerja keras kok dicemburui.

    Disukai oleh 1 orang

  10. “Dosen adalah sarana pengabdian dan sumbangsih kita pada (anak) bangsa melalui penyebaran pengetahuan yg kita dapat.”

    Mas,
    apa ini bukan jargonnya pemerintah ? sehingga kita terus bicara pengabdian walau beras sudah tak terbeli ? bagaimana dengan nasib dosen2 cerdas S2, S3 luar negeri yang tidak mampu membayar SPP anaknya ? apa kita tidak miris ketika dosen disuruh peneitian terus sementara masih ngontrak ditumah petak ?

    Kalau bicara dosen tidak sekaya pengusaha saya fikir wajar, tapi kalau dosen terus disuruh mengabdi, gimana dg kualitas kehidupannya ?

    Disukai oleh 1 orang

  11. Andai saya bisa mengulangi pilihan karir, saya ingin jadi dosen. Ayah ibu guru, kedua adik saya dosen, dan suami juga dosen.

    Anak-anak saya tidak pernah mendapatkan uang saku sampai dengan SMP, karena setiap pagi sudah sarapan, dan SD serta SMP nya dekat rumah. Temen-temen saya suka bingung, tapi anak saya gembira saja, dia dari TK, SD, SMP, SMA sampai PTN semuanya negeri…bahkan saat SD di SD Inpres. Saat SMA uang sakunya juga kecil, sekedar untuk naik angkot/bis Kopaja, dan jajan di kantin kalau terpaksa pulang sore karena ada kegiatan. Walaupun mampu, anak-anak tidak diantar jemput mobil. Tapi pada waktunya, anak sulung dibelikan sepeda motor (yang bungsu tidak mau), dan saat umurnya cukup diajar nyetir mobil, dan SIM benar-benar resmi.

    Akibatnya, anak-anak kami kuliah di UI dan ITB tetep naik angkot (mereka lebih suka naik angkot daripada naik motor atau mobil, karena jalanan macet), uang saku terbatas, malah dia bisa mendapatkan uang saku sendiri. Dan setelah lulus, mereka juga ingin jadi dosen, tapi sesuai peraturan dari Dirjen Dikti, minimal harus S2 dulu.

    Disukai oleh 1 orang

  12. Salam,
    Wah….seru nich komentar kawan-kawan semua. Jadi pengen ikutan komentar nich. Dari komentar kawan-kawan semua,menjadikan saya lebih mantap dalam keyakinan untuk menjadi dosen. Memang ada dosen dengan penghasilan yang lumayan,tapi gak sedikit juga (alias mayoritas) penghasilan dosen yang pas-pasan.

    Tapi saya salute,buat teman-teman yang mau menjadi dosen dengan gaji yang pas-pasan itu tadi. Saya setuju,baiknya memang dosen harus memiliki penghasilan selain dari gaji/honor menjadi dosen.

    Disukai oleh 1 orang

  13. Bapak saya adalah dosen di salah satu universitas negri di Jateng. Saya bisa merasakan kehidupan dengan penghasilan dari gaji mengajar. Memang tidak bakalan bisa kaya kalau mengandalkan gaji dosen universitas negri. Cuma bukan masalah kaya atau tidaknya tapi dari keberkahan hidup. Saya merasakan harta yang didapat dari gaji mengajar, berbagi ilmu, luar biasa berkahnya.
    Kalo soal pemerintah kita belum begitu menghargai dosen sebagai salah satu aktor intelektual di negri ini, memang pemerintah keterlaluan. Saya dulu pernah mau hijrah ke Brunei Darusalam, karena dosen di sana di gaji sampai dengan Rp 50 jt perbulannya……benar-benar penghargaan yang luar biasa untuk para pengajar……Kapan ya Indonesia seperti itu

    Disukai oleh 1 orang

  14. @harriansyah
    Saya bilang “paling tidak di fak tempat saya kerja”. Anda kul dimana? FISIP? Mungkin kasus dosen anda agak anomali, saya punya beberapa kolega dosen muda fisip, tidak sesejahtera rata2 dosen FK atau FE, tetapi jelas tidak miskin dg bergantung dari mengajar, administrasi dan proyek di lingkungan UI atau join dg LN (tentunya harus kompeten dan rajin juga).
    Apalagi pak rektor yg baru sudah bicara di media bahwa gaji dosen UI akan dibuat rata2 10 jt, pasti akan ada komitmen kesana buat fakultas2 yang selama ini kurang sejahtera. Pak rektornya orang fisip pula 😀

    Above of all, bagi saya pekerjaan dosen itu sebenarnya melelahkan. Persiapan mengajar, mengajarnya, memberikan dan memeriksa tugas, mengencourage mahasiswa buat aktif, dst… Senangnya sih berbagi dan belajar dari mahasiswa.

    Kemewahan dosen adalah fleksibilitas waktu. Gaji pokok bisa lebih rendah dari swasta, tetapi dg abundant flexible time (bukan free time). Yang penting ngga bolos ngajar, ngga mengubah waktu kuliah seenaknya, hargai mahasiswa juga, sediakan waktu untuk konsul diluar kelas, dan terus meningkatkan kompetensi (diantaranya dg terlibat riset dibidang kelimuan kita).

    Kalau univ punya fasilitas yg memadai, mudah2an dosennya lebih mudah untuk berkarya baik langsung di kampus maupun tidak langsung lewat kerja sama dg luar kampus. Yang susah mungkin univ kecil di daerah yang kurang berkembang. Pemerintah mesti pay more attention.

    Disukai oleh 1 orang

  15. Kok kesannya pengabdian itu sama dengan kere??? Kalo gitu, dosen yang gak kere berarti tidak mengabdi untuk bangsa dong?

    Alangkah mulianya jika seorang dosen bisa mengabdi dengan ikhlas sekaligus berkarir dengan gaji memadai.

    Disukai oleh 1 orang

  16. @Aku
    Bicara penghasilan tentunya relatif. Kalau sampeyan bilang tajir, blm tentu yg lain punya pendapat yg sama.

    @konsultan
    kl yg satu ini bilang PNS Dosen di PTN BHMN di bilangan Depok itu gajinya tinggi ya jelas. Status kampusnya aja udah bukan PTN melainkan BHMN. Biaya kuliah disana aja mencekik leher, saya merasakan koq. Ya pantes aja kl dosennya dibayar mahal. Tp kl sampe 10 juta perbulan apa iya ? Soalnya dosen saya cerita ya kaya tulisannya Pak Fatih ini.

    Disukai oleh 1 orang

  17. Bagi saya menjadi dosen itu sebuah kewajiban. Salah satu cara mengaplikasikan ilmu yg didapat seorang sarjana S2 ke atas adalah dg mengajar. Di samping dg menulis buku, dll. Namun, saya menganggap dosen itu bukan pekerjaan. Dosen adalah sarana pengabdian dan sumbangsih kita pada (anak) bangsa melalui penyebaran pengetahuan yg kita dapat.

    …Idealisme yang langka.
    Menurut saya, apa yang Mas Fatih sebutkan di atas adalah sebuah Orientasi hidup indah, yakni untuk memberi, bukan mendapatkan 🙂

    Semoga diberi kekuatan

    Disukai oleh 1 orang

  18. Tgantung dia itu dosen dimana…
    Kalo di kampus yang minim penelitian atau proyek2 yg sesuai bidangnya, menjadi dosen memang kbanyakan “pengabdian”.
    Juga kalo cuma mengandalkan penghasilan dari sekedar mengajar, menjadi dosen secara ekonomi memang kurang menarik.
    Sebenarnya banyak juga dosen yg penghasilannya lumayan, dan banyak juga yg tidak lumayan. Jadi mnurut saya tgantung kreativitas dan pemanfaatn waktu saja.
    Hanya saja karena penghasilan pokoknya kecil, memang ada kesan kebanyakan dosen tidak fokus di tugas utamanya. Baik guru maupun dosen memang butuh kebijakan pemerintah untuk mengusahakan kesejahteraannnya agar bisa fokus di pekerjaan pokoknya.

    Disukai oleh 1 orang

  19. Kalau jadi dosen, bayarannya memang tidak besar. Tapi pengabdiannya, saya kagum deh..

    tapi bukannya dosen banyak dipercaya untuk memimpin suatu proyek? tidak korupsi, hidup makmur pun wajar.

    Disukai oleh 1 orang

  20. PNS di prov tmpat saya idup makmur2 loh…..guru aja pndapatannya sampe 3 jt..apalagi dosen….
    Tapi mncari ilmu dgn penelitian itu mnyenangkan loh…*tapi gw jg klo saya yg ngalamin nnt,,heheheh*

    Disukai oleh 1 orang

  21. Ada juga yg begini pak : ngajar di univ.negeri utnuk pengabdian, dan nyambi ngajar di swasta untuk penghasilan 🙂 Klo spt ini, profesi dosen memang sulit dipisahkan antara pengabdian dan kerja kan?

    Disukai oleh 1 orang

  22. Begitu aja kok repot. Kalau kita mau jadi orang yang syukur nikmat, maka ikuti fatwa saya berikut: Jika kamu tidak (belum) punya apa yang kamu cintai, maka cintailah apa yang yang kamu punyai. Maksud saya menjelang dapat job yang lebih bagus (tentu tetap usaha), tekuni saja lah dulu pekerjaan yang sudah ada ini (jadi dosen). Ya toh.

    Disukai oleh 1 orang

  23. Dosen dan peneliti juga manusia kan, yang tentu butuh ini itu untuk dirinya dan keluarganya. Kalau musti ngabdi dan menderita terus, lha ngabdi sama siapa sih kok tuannya tega amat membiarkan abdi setianya menderita ? Mustinya negara cq pemerihtah yang memikirkan hal itu kalau bangsa kita mau maju dalam IPTEK. Jadi kalau ngabdi haruslah menderita adalah ironi karena uangnya dikorup oleh oknum pejabat. Terimakasih dan salam eksperimen.

    Disukai oleh 1 orang

  24. pengalaman sebagai dosen IPB,saya melihat karir dan pengabdian tidak bisa dipisahkan….nah ini ada kaitannya dengan kesejahteraannya….kalau dosen punya karir bagus (seharusnya begitu) plus pengabdian tinggi…namanya semakin dikenal publik…lalu permintaan “pasar” pada dosen ybs semakin tinggi….nah tinggal hitung-hitung saja berapa rezeki yang bakal diperoleh buat investasi diri dan keluarganya dan berapa untuk disedekahkan buat kaum yang lemah…semoga

    Disukai oleh 1 orang

  25. Menurut saya, kita tidak bisa mempertentangkan antara pengabdian dan karir. Artinya begini, kita tidak bisa memaklumi imbalan dosen yang kecil sebagai bentuk pengabdian. Artinya, imbalan dosen harus didisain supaya memotivasi orang untuk menjadi dosen dan memotivasi dosen untuk memiliki kinerja bagus dan penelitian yang bagus. Kalu bisa hanya dengan imbalan nya saja kehidupan dosen tercukupi, tidak perlu nyambi yang lain.

    Disukai oleh 1 orang

  26. umumnya, berdasarkan pengamatan saya dulu di jurusan arsitektur ITB, dosen di PNS kebanyakan jg berwirausaha. Punya konsultan, punya design house, freelancer, ato apapun. Ngajar di sana ya jelas duitnya kecil. Kadang, saking dosennya udah mumpuni karena kerjaannya sbg konsultan/freelancer, ngajar di ITB lebih berdasar panggilan aja.

    Ada satu dosen, tinggal di rumah mewah di Pondok Indah. Dateng ngajar seminggu sekali ke Bandung pake mobil BMW nya bolak balik dalam hari. Kalo diitung, gajinya sebulan aja udah habis utk biaya bensin sendiri. Tapi beliau masih concern ngajar, karena pengabdiannya itu.

    Disukai oleh 1 orang

  27. iya mas.. setahu saya (plg tidak di fak tempat saya kerja) dosen depok itu rata2 10 jt/bln diluar gaji PNS (jika dia PNS) dan honor peneliti. Ngajar di kelas2 khusus (pasca, int’l, exec, dll) ada honor lagi yg sangat lumayan. Ngga perlu (dan ngga boleh) nyambi ngajar di PTS. Jadi doktor yg rajin bisa dapet 15-20 jt/bln. Apalagi kl pegang jabatan, gajinya lain.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s