Saksi Kematian dan Pedagang Ego

pelangiKalau ada orang meninggal, biasanya sebelum dikubur ada acara kesaksian di depan publik menjelang pemakaman. Umumnya yg memberi kesaksian adalah tokoh masyarakat setempat yg cukup dihormati. Isi kesaksian umumnya berisi hal-hal positif yg pernah dilakukan oleh almarhum semasa hidupnya.

Di Barat kesaksian ini juga berlaku. Ini artinya, tradisi ini sudah menjadi kebiasaan universal di seluruh dunia.
Hal yg patut direnungkan adalah mengapa kesaksian semacam ini hanya dilakukan pada orang yg sudah almarhum saja? Mengapa kita tidak mentradisikan budaya kesaksian ini pada orang-orang yg masih hidup? Mengapa kita cenderung memberi kesaksian buruk atau minimal mencampur-aduk dg menceritakan perilaku baik dan buruk seseorang?

Sering kita dengar percakapan seperti ini,
“Ponimin itu anaknya baik lho, sayang suka usil.”

atau

“Eh, jangan bilang-bilang yah, denger-denger Juminten dah jadian ama Jumadi,” kata A dg napas memburu saking nafsunya dapat berita “hot.”
“Ah, itu mah dah lama. Gua dah denger dari dulu. Elo kemana aja kok ketinggalan,” kata B sambil bangga karena merasa lebih “canggih” dalam mengikuti berita terbaru.

“Oon banget tuh anak, masa masalah sepele gitu aja gak ngerti.”

Dll.

Miskalkulasi

Menjelekkan, merendahkan dan meremehkan orang lain pada dasarnya adalah watak dasar manusia sebagai akibat natural dari ego kita.

Ego kita menginginkan bahwa hanya “aku” lah yg paling top. Akulah yg paling terdepan mendapat berita. Akulah yg paling pinter. Akulah yg palign “suci.”

Dorongan menjadi yg paling terdepan ini pada gilirannya mendorong kita untuk bersikap tidak fair pada orang lain dg berbagai cara yg intinya merendahkan.

Kalau Anda seorang “pedagang” ego yg ulung, Anda akan sadar bahwa Anda telah melakukan miskalkulasi, salah hitung dan dagangan Anda akan rugi besar.

Merendahkan orang dg niat menaikkan diri sendiri akan berdampak backfired alias senjata makan tuan. Jangan lupa bahwa orang yg kita serang dan kita rendahkan juga memiliki ego juga yg kalau kadarnya tidak jauh lebih tinggi, minimal sama dg ego kita. Itu artinya kalau ego dia kita serang, maka secara naluri dia akan menyerang balik ego kita.

Perang ego ini terkadang terjadi secara frontal, walau kadang dalam bentuk “perang dingin.” Ini tergantung bawaan sikap masing-masing individu. Yg jelas, orang yg pernah kita hina dg hinaan ringan atau berat tidak akan menaruh respek pada kita. Ini artinya, tujuan semula kita yg hendak menaikkan derajat diri sendiri itu tidak tercapai. Sebagai pedagang, Anda rugi. Seberapa kerugian kita itu sangat tergantung seberapa berat dan seberapa sering Anda dalam merendahkan dan menjelek-jelekkan orang lain.

Pedagang yg Baik

Figur yg populer biasanya yg memiliki keseimbangan dalam banyak hal. Termasuk dalam “berdagang” ego. Dia tidak segan untuk bersedekah ego dg cara memuji atau memberi apresiasi pada hal-hal positif yg dilakukan orang lain, tanpa menyebut kekurangannya. Pada gilirannya, orang yg kita apresiasi juga merasa “berhutang ego” pada kita, dan akan mengapresiasi kita apabila ada yg patut diapresiasi. Pada saat-saat tertentu, terkadang kita juga perlu untuk berpura-pura baik, apabila tidak mampu untuk berbuat baik dg tulus.

Lihat dialog positif antara dua cewe ABG di bawah:

“Baju elo bagus banget, beli di mana?”
“Ah, biasa aja kok. Baju kamu juga bagus.” (Saling memuji)

Bandingkan dg dialog perang ego yg ini:

“Eh baju elo unik yah, habis beli second hand di Sarojoni yah, hihihi?”
“Enak aja, ini beli baru tau. Lagian, jelek-jelek gini gua suka, daripada bagus tapi hasil nyuri!”
“Emang baju sapa yg nyuri?”
“Baju elo.”
“Eh, enak aja. Jangan sembarangan ya, ini gua dibeliin ortu gue!”
“Iya tau, paling juga ortu dapat hasil korupsi.”

Sekedar renungan betapa pentingnya melihat sisi-sisi positif seseorang, teman-teman di sekeliling kita dan betapa perlunya tidak membahas kekurangannya. Hubungan pertemanan yg berhasil dan bertahan lama hanya akan terjadi apabila tidak ada hati yg terluka.

Dan yg lebih penting, penghargaan orang lain pada kita akan sangat tergantung pada penghargaan kita pada orang lain. Dan apabila kita mengerti hakikat “dagang ego” seperti ini, mengapa kita mesti menunggu memberi penilaian positif pada seseorang ketika orang itu sudah meninggal?

4 tanggapan untuk “Saksi Kematian dan Pedagang Ego

  1. @saherman & firman firdaus: salam kenal ya.

    @tanah sirah: tulisan di atas unt refleksi diri sendiri. artinya bagi saya bukan soal apakah ‘hukum alam’ yg berlaku; tapi etika sosial mana/apa yg terbaik buat dipraktikkan oleh diri sendiri. tak harus ikut ‘hukum alam’ kalau ada pilihan yg lebih baik, bukan? salam kenal juga. 🙂

    Suka

  2. Salam kenal mas, walau banyak sisi positif seseorang yang bisa diambil namun disaat sesesorang tersebut tergelincir karena kesalahannya maka semua kebaikannya sering dilupakan. Bak kata pepatah panas setahun hilang oleh hujan sehari. Ini hukum alam mas.

    Suka

  3. Betul mas Fatih. Merendahkan orang lain dengan harapan membuat tinggi nilai diri sendiri di hadapan orang lain justru bisa berakibat sebaliknya. Orang lain bisa berpikir: “sekarang lu jelekin orang lain di muka gue, besok lu jelekin gue di muka orang lain.” Amatlah buruk sifat ini hingga dalam Al-Qur’an pun disebutkan orang ini akan mendapat hukuman yang luar biasa berat.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s