Karir dan Perselingkuhan

Diperlukan Paradigma Baru MaskulinitasOpini di Harian Duta Masyarakat 7 Agustus 2007
Judul Asli: Diperlukan Paradigma Baru Maskulinitas
Oleh A Fatih Syuhud

Perempuan telah membuat kemajuan cukup cepat di bidang pendidikan dan partisipasi kerja. Indikator sosial dan ekonomi mereka semakin menunjukkan perbaikan luar biasa waktu demi waktu. Penyempitan gap gender ini nantinya akan mengarah pada peningkatan kekerasan pada perempuan, setidaknya dalam jangka pendek. Oleh karena itu, kita hendaknya dapat mengontrol beberapa konsekuensi dari pemberdayaan gender, khususnya disfungsional keluarga dan hubungan rumah tangga. Bagaimana membantu kaum pria merubah pola pikir yang ada agar kemajuan perempuan tidak harus dibayar mahal tampaknya memerlukan perhatian lebih.

Imej umum lelaki adalah sebagai sosok pencari nafkah yang kuat dan gigih. Dan perempuan digambarkan sebagai ibu rumah tangga yang menunggu dengan setia kepulangan suami dari tempat kerja. Pria sering terjebak dalam imej sebagai pencari nafkah dan ongkos psikologis dari kegagalan memenuhi peran ini dapat luar biasa. Apa yang terjadi apabila peran gender yang sudah mentradisi ini di redifinisi kembali, khususnya di lingkungan kelas menengah ke atas, yang sering ditimbulkan oleh kebutuhan dan tantangan ekonomi baru? Perempuan sebagai tenaga kerja disukai karena kesediaan mereka melakukan pekerjaan dengan gaji lebih rendah, adanya komitmen dan rasa tanggung jawab serta cocoknya pada sejumlah pekerjaan tertentu.

Gerakan kaum feminis dan munculnya sejumlah role model telah membantu memicu bangkitnya wanita profesional kelas menengah, yang sukses berkarir dan pada waktu yang sama berhasil sebagai ibu rumah tangga. Kalangan wanita sukses ini terkadang menyembunyikan rasa tertekan mereka dalam mengemban dua macam tanggung jawab. Tetapi apa yang akan terjadi saat pembalikan peran rumah tangga terjadi dan perempuan menjadi pencari nafkah? Seorang rekan saya yang baru lulus S2 Hukum di India dan sukses sebagai konsultan hukum di perusahaan terkenal di Jakarta mengatakan, “Saya lebih memilih bekerja dan karir saya diapresiasi suami kendati suami saya sukses, dari pada hanya berperan sebagai ibu rumah tangga”.

Dengan semakin meningkatnya jumlah perempuan menempati lapangan kerja, maka sedikitnya akan muncul empat probabilitas tantangan imajiner sosial ke depan.

Pertama, wanita A akan menjalani beban ganda sebagai pencari nafkah dan pengatur rumah tangga sedang suami tidak berperan apa-apa.

Sang suami menolak menjadi bapak rumah tangga kendati sang istri bekerja keras sepanjang hari. Akhirnya mereka berpisah tetapi membiarkan pintu tetap terbuka untuk rujuk kembali suatu hari nanti.

Kedua, perempuan B menikah secara tergesa alias cinta monyet. Istri kemudian menyadari bahwa mereka secara intelektual maupun emosional tidak serasi. Sementara itu, dua anak telah lahir dan karena itu sang istri mempertahankan perkawinan. Dia mengambil langkah berani dengan tetap bekerja mencari nafkah keluarga dan sekaligus meneruskan tanggung jawab sebagai ibu rumah tangga. Dari waktu ke waktu, sang istri ingin keluar dari wahana perkawinan, tetapi karena tak ada dukungan, tetap melanjutkan mahligai rumah tangga. Uang tidak menjadi masalah tetapi sang suami cemburu pada pekerjaan istri, independensinya, fakta bahwa istri mencapai keberhasilan yang tak bisa dia raih. Haruskah istri menceraikannya?

Ketiga, perempuan C dan suaminya menikah berdasarkan cinta. Keduanya profesional. Tetapi lama kelamaan sang suami cemburu melihat istrinya yang lebih berbakat dan sukses. Suatu hari, suami stress dan mengusir istri, dengan anak kecil yang tidur di sampingnya. Sang istri pun menjadi single parent, bekerja dan memelihara anak. Haruskah dia berekonsiliasi dan kembali ke sang suami?

Perempuan D melakukan hubungan gelap dengan kolega kerjanya dan ketika suami mengetahuinya, maka dia pun menceraikannya. Sang istri meminta maaf dengan beralasan “di luar kesengajaan” dan memohon untuk rujuk. Haruskah suami rujuk kembali, kendati kelelakiannya tertantang dan menjadi rendah di mata dunia?

Kasus ketiga itu sudah umum terjadi. Dr. Shirley Glass, seorang psikolog Amerika dan pakar soal perselingkuhan dalam bukunya Not “Just Friends”: Protect Your Relationship From Infidelity and Heal the Trauma of Betrayal memberikan data survei menarik.

Menurut Glass:

Selama dua dekade pengalaman prakteknya sebagai psikolog diketahui ada 46 persen istri dan 62 persen suami yang telah melakukan perselingkuhan dengan kolega kerja. Dan menariknya, perselingkuhan yang dilakukan kalangan istri justru meningkat secara signifikan – dari 1982 sampai 1990, 38 persen istri melakukan perselingkuhan dengan rekan kantor berbanding dengan 50 persen jumlah istri tidak setia dari tahun 1991 sampai 2000.

Di Indonesia, menurut data stastistik dari Direktorat Jendral Pembinaan Peradilan Agama Tahun 2005 lalu, misalnya,

…ada 13.779 kasus perceraian yang bisa dikategorikan akibat selingkuh; 9.071 karena gangguan orang ketiga, dan 4.708 akibat cemburu. Persentasenya mencapai 9,16 % dari 150.395 kasus perceraian tahun 2005 atau 13.779 kasus. Alhasil ,dari 10 keluarga yang bercerai , 1 diantaranya karena selingkuh. Rata-rata , setiap 2 jam ada tiga pasang suami istri bercerai gara-gara selingkuh.

***

Kajian tentang maskulinitas, sebuah area riset paralel yang berkembang sebagai respons pada kajian perempuan, perlu dilakukan untuk mengeksplorasi isu-isu seputar keluarga di mana pasangan seperti yang tersebut di atas terperangkap. Suami dapat saja disalahkan sebagai pemukul istri, pelaku kekerasan rumah tangga dan terror. Tetapi, apa yang membuatnya demikian?

Dalam kasus pertama, akankah ibu rumah tangga yang tidak bekerja (dan terkadang tidak mendukung) didepak dari rumah? Di sini masyarakat akan dengan cepat mengatakan bahwa sang suami yang kejam telah meninggalkan istrinya. Pada kasus kedua, suami mengalami rasa minder karena dia tidak memiliki kapasitas intelektual dan kecakapan seperti istrinya untuk berkembang dan mulai menderita kecenderungan depresi. Dalam kasus ketiga, akankah sang istri yang memahami keadaan suaminya seperti itu karena dia tumbuh dalam kondisi keluarga yang disfungsional, mencoba pendekatan yang lebih halus? Apakah sang suami dalam contoh terakhir menyadari bahwa dia hanya korban dari pembalikan peran (reversal role)—selama ini perempuan biasanya selalu dalam posisi dikhianati—dan rela menerima kembali istrinya apabila sang istri hendak rujuk?

Sementara kita memfokuskan emansipasi untuk perempuan, kita juga perlu mengembangkan bentuk baru maskulinitas yang akan memungkinkan kaum lelaki beradaptasi terhadap realitas baru perempuan.

Untuk itu, diperlukan usaha keras masyarakat yang dapat berlaku adil baik pada lelaki dan perempuan.[]

25 tanggapan untuk “Karir dan Perselingkuhan

  1. kalau tahu dia selingkuh, kenapa tidak kita lakukan pula hal yang sama. emangnya pria/wanita hanya dia. tahu sama tahu, free sex lah. mumpung ada media internet, telepon selular dan lain sebagainya. yg penting dijaga pasangan utuh sampai tua dan tidak mengundang penyakit menular ke keluarga.

    Suka

  2. kalau tahu dia selingkuh, kenapa tidak kita lakukan pula hal yang sama. emangnya pria/wanita hanya dia. free sex lah. mumpung ada media internet, telepon selular dan lain sebagainya.

    Suka

  3. Hanya bercanda nih..

    Usia awal pernikahan :

    cow : Akhirnya!! aku sudah menunggu saat ini tiba sejak lama
    cew : apakah kamu rela kalau aku pergi?
    cow : tentu saja tidak !! jangan pernah berpikiran demikian!!!
    cew : apakah kamu mencintai aku?
    cow : tentu selamanya akan tetap begitu
    cew : apakah kamu pernah selingkuh?
    cow : Tidak!! aku tidak akan melakukan hal seburuk itu
    cew : maukah kamu menciumku?
    cow : ya
    cew : sayangku…

    Sesudah memasuki tahun ke 5 perkawinan
    Tinggal anda baca dr bawah ke atas…

    Suka

  4. salam kenal,

    kalo menurut aq, lebih ke diri sendiri aja, kalo nawaitunya emang udah nggak bener ya tetap aja selingkuh, wong tanggungjawabnya waktu ijab kabul juga udah cukup jelas n itu janjinya ama yang bikin Hidup, ya khan !

    Suka

  5. KENAPA…!!!!,
    KESALAHAN PRIA MASA LALU SELALU DIPERKARAKAN TERUS, SEDANGKAN PRIA TIDAK MEMPERMASALAHKAN KESALAHAN MASA LALU YANG DILAKUKAN WANITA……!!!!!!

    Aq, disini bertanya kepada siapa aj, baik pria / wanita, yang sudah menikah / belum menikah.
    bisa tolong Aq temukan jawabannya…..

    Thank’s

    Frustasi

    Suka

  6. selingkuh adalah pengkhianatan perkawinan. gue gak setuju dg affair. kalo kebutuhan sex di rumah tak terpenuhi lalu si wanita beli kepuasan sex di luar, gue sih oke2 aja, asal tidak ada affair atau hub cinta. jadi sekedar masalah pemenuhan sex. cinta tetap buat suami dan istri. kalo ada wanita karir yg butuh sekedar hub sex aja, gue sih siap juga melayani, sifatnya transaksi kepuasan sex. 081578130078

    Suka

  7. “Indahnya selingkuh” itu kata sebagian orang.
    Naudzubillah,
    Mari dekatkan diri pada yang maha kuasa, mudah-mudahan kita bukan bagian dari orang-orang itu!

    Suka

  8. Menurut aq “Pertama, wanita A akan menjalani beban ganda sebagai pencari nafkah dan pengatur rumah tangga sedang suami tidak berperan apa-apa”…….hal ini banyak sekali terlihat saat ini, karena tingginya tingkat pendidikan dan jenjang karir yang lbh cpt drpd laki2…banyak perempuan yang berbalik peran…akankan laki2 bisa menerima kalau ternyata sang istri berselingkuh….??? Kalo pada kenyataannya dia tdk berbuat apa dan tdk menjalankan perannya…..salahkah disini pihak perempuan andai terjadi affair ??

    Suka

  9. Masalah perselingkuhan menurut saya balik k pribadi masing2 orang2, adanya perselingkuhan biasanya terjadi karna ketidak puasan terhadap pasangan dan bahkan ada juga karna kurangnya perhatian dari pasangan yang menyebabkan seseorang ingin berselingkuh karna membutuhkan orang yang memperhatikannya.

    Suka

  10. mmm.. ini menarik 😉 tapi agak bingung dengan kriteria atau batasan selingkuh itu sendiri. apa kriteria terkecil hingga seseorang disebut selingkuh. berbohongkah? atau sms “sedikit nakal” misalnya?

    #batasan selingkung maksimal ya berzina atau minimal petting dg selingkuhannya. ini yg paling dipahami banyak orang.

    Suka

  11. Salam kenal

    Karier dan rumah tangga adalah 2 hal yang sangat penting bagi wanita yang sudah mempunyai pemikiran maju.Karena pada zaman sekarang ini, wanita haruslah mandiri, khususnya mandiri secara finansial sehingga tidak lagi bergantung kepada keluarga atau suami. Wanita berkarier identik dengan selingkuh, tapi kita kembali lagi bertanya pada hati nurani tentang arti suci dan sakralnya perkawinan. Seberapapun hebatnya wanita dalam karier, jika keluarga tidak terurus dan berantakan, pada kacamata saya wanita itu tidak sukses. Perselingkuhan hanyalah masalah emosi, ego. Wanita adalah sosok yang sangat berharga dan terhormat.Jadi kenapa tidak kita jaga image tersebut.

    Ayu, 24 tahun, Manager HRD Perusahaan Swasta Di Bali.

    Suka

  12. Ada tiga hal kata psikolog perkawinan di Amrik sana, kalau dua terpenuhi kemungkinan perkawinan akan langgeng prosentasenya lebih besar : 1. Hubungan seksual yang saling memuaskan 2. Keadaan ekonomi yang cukup. 3. Anak-anak yang berprestasi dan baik-baik.
    Karena kebanyakan kita tdk dipersiapkan utk menjadi suami atau ayah, tdk ada pelajarannya di sekolah. Jadi belajar sendirilah.

    Suka

  13. 1. Nauzubillahiminzalikh ya Allah, mohon dijauhkan 7 turunan dari segala keburukan, apalagi selingkuh..astagfirullah.

    2. @ wibisono: hahahaha..kocak banget, sumpah!

    3a. share juga: di negara2 yang baru mengalami revolusi feminist, biasanya perempuan nunda2 nikah karena takut karir nya terhambat, khawatir hidupnya terkendali oleh urusan rumah tangga sehingga kurang bisa bermanfaat bagi society. di norway, negara yang menepati rangking ke 2 di dunia dalam mereduksi gender gap, malahan laki lakinya yang pada ogah nikah. mereka merasa laki laki hak nya dikekang dalam pernikahan.

    3b.however, tipe maskulinitas laki2 disini oks punya. gak sungkan masak, bersih2, dorong kereta bayi, belanja…wuih..kayaknya konsep share task mereka bener2 udah broad. they really can differ between sex equality (yang mana tidak mungkin kecuali operasi transeksual) and gender equality. kapan ya punya suami orang orang islam dengan tipe maskulinitas begini…LOL

    Suka

  14. Perselingkuhan sebenarnya akibat adanya ketidak puasan seorang pasangan dalam membina sebuah hubungan. Hal itu bisa saja terjadi bukan hanya karena pasangankita sebagai wanita karier atau suami kita pejabat teras di luar sana. Yang menjadi masalah adalah (menurut saya) ketika komitmen awal di ikrarkan di depan “pengadilan pernikahan” tidak terjadi. Salah satu dari pihak pasangan secara sadar atau tidak sadar menghancurkan komitmen yang telah mereka ikrarkan sebeumnya,sehingga terjadi ketidakpuasan dari pasangan hidup kitam sakit hari, ketidak jujuran dan juga balas dendam. Menurut saya entah itu pasangan karier ataupun tidak, kalo dari awal komitmen di pengadilan pernikah mereka serius dan bertahan untuk mempertahankan komitmen mereka sampe titik darah penghabisan, maka tidak ada yang namanya”perselingkuhan” di manapun manusia berada.

    Suka

  15. kasus selingkuh atau tidak selingkuh tidak lagi menjadi monopoli kalangan tertentu ataupun lapisan masyarakat tertentu apalagi perbedaan gender,walaupun kesempatan berselingkuh tentunya lebih banyak dimiliki oleh kaum wanita karier dan para profesional pria,tetapi inti persoalan berada pada acuan nilai-nilai yang diakuinya secara individu sebagai sesuatu yang harus dijaga dan dipelihara atau bahkan sebuah kebanggan dan penghargaan yang harus dipertahankan untuk tidak melakukan selingkuh.parameter ini sekarang telah menjadi tersamar dengan/dari perubahan terus menerus berlangsung sebagai dampak dari budaya global yang tidak memiliki arah yang jelas serta nilai mana yang harus menjadi kebanggan atau dipertahankan.Akankah suatu saat kemampuan selingkuh menjadi suatu kebanggaan ? Karena perubahan budaya ini telah menggeser nilai-nilai pada kondisi menyesatkan,yang tidak memiliki arah jelas akan kemana dan berada dimana. Konflik persepsi dan pemahaman acuan nilai hanya bisa ditemui melalui kaidah agama.

    Suka

  16. Begitulah mas Fatih. Kalau pembalikan peran itu betul-betul tidak diimbangi kesiapan masyarakat dalam berbuat adil pada peran Suami dan Istri, sepertinya perjuangan untuk kesetaraan itu malah (seperti) sia-sia. Penyakit selingkuh macam ini sudah umum di Jakarta. Lebih tertarik sama teman sekantor yang ketemu dari pagi sampe sore (bahkan malam). Ketemau pasangan resmi malah cuma sebentar sebab pulang ke rumah malam hari sudah dalam kondisi letih.

    Yang juga perlu dipikirkan adalah kondisi anak-anak. Saya sendiri sedih melihat kondisi anak-anak dari orant tua yang sibuk bekerja di kota macam Jakarta. Anak-anak itu tumbuh dan berkembang dengan perhatian orang tua yang sangat minimali. Teknologi Komunikasi tidak bisa menghadirkan kehangatan hubungan keluarga sebagaimana kontak secara fisik dan langsung.

    Suka

  17. Salam kenal, saya bloger pemula, mau ikut sharing soal perselingkuhan…
    Menurut pengamatan dan pengalaman saya, perselingkuhan bisa dilakukan baik oleh perempuan maupun laki-laki, baik sebagai ibu rumah tangga ataupun wanita karier…
    Mungkin kemungkinan prosentasenya lebih banyak pada wanita pekerja atau karier…
    Semua sangat tergantung pada kwalitas moral/spiritual yang bersangkutan..
    Sekarang ini, setelah bangkitnya emansipasi perempuan, memang ada peningkatan kwantitas perselingkuhan oleh wanita, akibat ingin dianggap setara dengan laki-laki…Kalau laki-laki bisa selingkuh, mengapa wanita tidak bisa?…Terjadi distorsi dalam implementasi emansipasi wanita…
    Karena itu sekarang ada kecenderungan laki laki dan perempuan bersaing menunjukan kehebatannya dalam berselingkuh…tapi itu semua hanya ekses…
    Kembali lagi karena manusia itu mahluk Tuhan yang punya hati nurani/God Spot, maka perselingkuhan tersebut tetap tidak memberikan kebahagiaan, karena bertentangan dengan sifat Tuhan Yang Maha Jujur…mereka akan menderita dan sebenarnya tetap ingin tidak berselingkuh…tapi sesuai Sigmund Freud, Id/nafsu duniawinya nya selalu mendorong untuk melakukan sifat primitif/kebinatangannya…

    Suka

  18. @wibisono: apakah cukup maskunilitas kita atau belum itu tidak penting bagi saya. hidup hanya sekali, dan hendaknya kita berusaha sebia mungkin membuat keputusan tepat yg tujuan akhirnya adalah agar kita dapat menjalani hidup yg damai dan nyaman. Saya kira dalam konteks ini Anda telah membuat keputusan yg sesuai dg nurani Anda. Label maskulin atau tidak, sekali lagi, menjadi tidak penting di sini.

    Suka

  19. Perselingkuhan sebenarnya akibat dari ketidakpuasan, ketidakpuasan adalah akibat dari interaksi yang kurang harmonis, interaksi yang kurang harmonis adalah akibat kurangnya komunikasi, kurangnya komunikasi adalah akibat jarang bertemu atau sering bertemu tetapi kualitas pertemuannya kurang.
    Perselingkuhan juga bisa terjadi bukan karena logika diatas tetapi nafsu sesaat.
    Kalau kejujuran rasanya sih aku masih tanda tanya, ada suami yang bohong terus tetapi istrinya percaya juga. Ada suami yang jujur malah dicurigai istrinya.
    Yang jelas karir sebenarnya bukan penyebab utamanya, tetapi saling pengertian baik membagi waktu maupun kasih sayang dengan pasangan akan mengurangi resiko perselingkuhan, tetapi kalau terjadi juga mungkin bawaan atau bakat.

    Suka

  20. wah mas wibi sampe segitunya 😀

    tp menurut saya wanita karir akan cenderung suka selingkuh dengan pria karir 😀

    (affair sesama teman kantor) dan itu banyak kasus..

    *lho kok gak nyambung
    *kabur….

    salam kenal 🙂

    Suka

  21. Saya ingin share kisah saya sendiri. Belum menikah dan dulu saya pernah punya pacar. Saya punya karir, dia juga punya karir. Tapi dia tak mau saya kenal lingkungan kerjanya. Padahal saya lebih terbuka dan mengenalkan pada seluruh teman kerja saya.

    Sudah jalan hampir setahun saya merasa tidak secure dengan kondisi itu akhirnya ultimatum kenalkan saya keteman temanya atau saya putuskan. Dia terima putus tapi setelah proyek kerjaannya selesai dia mau balik lagi tapi saya udah gak ada rasa maka saya tolak. Maskulinitas saya masih baik baik saja kan Mas?

    Suka

  22. Salam kenal,

    tentang emansipasi, memang sebenarnya perlu dilakukan sosialisasi secara terbuka mengenai tafsirannya. karena semakin hari antara perempuan yang ingin menyetarakan dirinya dengan kaum pria pun semakin terjebak oleh suatu komunitas, keluarga.

    kebanyakan pendidikan mengenai kesetaraan gender, pesertanya adalah perempuan.semestinya, pendidikan kesetaraan gender tidak dilakukan secara tertutup, kita ajak kaum pria juga memahami bagaimana kesetaraan yang sebenarnya!! karena percuma saja jika hanya kaum perempuan yang memahami kesetaraan gender, sedang sang suami tidak memahami. alhasil, akan banyak timbul kecurigaan-kecurigaan, kecemburuan yang gak beralasan, tidak saling mengerti arti dari lelah sepulang kerja dsb…

    terutama masalah KEJUJURAN..!!! ketika kita menjalin hubungan, sifat ini adalah kunci dari segala2nya agar segala bentuk hubungan baik-baik saja. jika sudah tidak jujur, terutama jujur terhadap perasaan sendiri, maka proses untuk memahami pasangan akan terasa sangat sulit sekali.

    Jika kejujuran dan saling pengertian sudah terjadi antara kaum lelaki dan perempuan, kisah dominasipun tak lagi ada. Penindasan berbasis gender akan usang dengan sendirinya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s