90 Persen Hakim Indonesia Korup

90 Persen Hakim Indonesia Korup

Sekitar 90 persen hakim di Indonesia korup dan suka memproyekkan perkara.
Agung Djoko Sarwoko SH, Ketua Muda Pengawasan Mahkamah Agung (Jawa Pos, 6/12/07)

Pernyataan di atas cukup mengagetkan, bukan karena rakyat Indonesia tidak tahu adanya praktik korupsi di lembaga ini, semua yang pernah berurusan dengan hukum pasti tahu soal ini. Yang mengagetkan adalah bahwa ini pernyataan seorang pejabat tinggi yang tahu persis situasi di dalamnya. 90 persen? Alamak.
Lanjutkan membaca “90 Persen Hakim Indonesia Korup”

Karir dan Perselingkuhan

Diperlukan Paradigma Baru MaskulinitasOpini di Harian Duta Masyarakat 7 Agustus 2007
Judul Asli: Diperlukan Paradigma Baru Maskulinitas
Oleh A Fatih Syuhud

Perempuan telah membuat kemajuan cukup cepat di bidang pendidikan dan partisipasi kerja. Indikator sosial dan ekonomi mereka semakin menunjukkan perbaikan luar biasa waktu demi waktu. Penyempitan gap gender ini nantinya akan mengarah pada peningkatan kekerasan pada perempuan, setidaknya dalam jangka pendek. Oleh karena itu, kita hendaknya dapat mengontrol beberapa konsekuensi dari pemberdayaan gender, khususnya disfungsional keluarga dan hubungan rumah tangga. Bagaimana membantu kaum pria merubah pola pikir yang ada agar kemajuan perempuan tidak harus dibayar mahal tampaknya memerlukan perhatian lebih.

Imej umum lelaki adalah sebagai sosok pencari nafkah yang kuat dan gigih. Dan perempuan digambarkan sebagai ibu rumah tangga yang menunggu dengan setia kepulangan suami dari tempat kerja. Pria sering terjebak dalam imej sebagai pencari nafkah dan ongkos psikologis dari kegagalan memenuhi peran ini dapat luar biasa. Apa yang terjadi apabila peran gender yang sudah mentradisi ini di redifinisi kembali, khususnya di lingkungan kelas menengah ke atas, yang sering ditimbulkan oleh kebutuhan dan tantangan ekonomi baru? Perempuan sebagai tenaga kerja disukai karena kesediaan mereka melakukan pekerjaan dengan gaji lebih rendah, adanya komitmen dan rasa tanggung jawab serta cocoknya pada sejumlah pekerjaan tertentu.
Lanjutkan membaca “Karir dan Perselingkuhan”

Kidnapping Children for Ransom

Nobody in Indonesia feels sure as to what motivates the criminals to abduct a child to serve their purpose. One thing is clear this trend is growing and it grows at an alarming pace. The “climax” of such child abduction criminal trend was the release of Raisya, a 4-year-old pre-nursery student yesterday afternoon after being kidnapped for about 9 days in Jakarta.

As the daughter of Ali Said, the head of Indonesian Young Entrepreneurs (HIPMI) group, makes Raisya more fortunate than the other kids in the sense that her case is getting a lot of attention from the media and Indonesian establishment. No less than President Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) himself made a plea to the abductor to release her sooner rather than later.
Lanjutkan membaca “Kidnapping Children for Ransom”

Muhammad Yunus, Grameen Bank and Nobel Peace Laureaute

I am not an economist, nor am I a South Asian countries (India, Pakistan, Bangladesh) analyst. I hardly write on India-Pakistan-Bangladesh political events unless there’s an Indonesian newspaper requests me to do so.

That’s why when CNN reported last night that Nobel peace prize winner for this year is a person named Muhammad Yunus, a Bangladeshi, the inventor of microcredit loan and founder of Brameen Bank which jointly announced as a co-winner, I am so amazed, surprised and happy for various reasons.First, as far as I can tell, it’s for the first time that Nobel Peace Prize being awarded to a non-political personality. Nobel Peace usually has more political connotation with, well, a bit American flavour. So, to see an economist as the winner is in itself surprising and an encouraging sign.
Lanjutkan membaca “Muhammad Yunus, Grameen Bank and Nobel Peace Laureaute”

Corrupt Democracy or “Clean” Tyranny?

People in developing countries are facing many challenges the most basic of which are corruption, injustices and poverty; widening gap between the rich and the poor; the deficit of trust between the ruler and the subject. In Indonesia, with life is getting harder on grass root level, many start murmurming about and romanticizing the “good old days” when Suharto’s tyrannical rule was prevalent.
Lanjutkan membaca “Corrupt Democracy or “Clean” Tyranny?”