Bagaimana Supaya Produktif Menulis

Tips Supaya Produktif Menulis

A WINNER works harder than a loser and has more time.
A LOSER is always “too busy” to do what is necessary.

Salah satu komentar di blog ini memberi apresiasi pada saya karena dia menganggap saya sangat produktif menulis. Terus terang saya malu dengan pujian itu. Jujur, saya tidak produktif. Sampai saat ini, sejumlah buku yang sedang saya garap masih tergeletak dalam bentuk draft dan semuanya masih setengah jadi. Tak ada satupun buku yang terbit dari tangan saya.
Lanjutkan membaca “Bagaimana Supaya Produktif Menulis”

Menulis Surat Pembaca

surat pembacaBagaimana menulis Surat Pembaca ke Media massa Koran atau Majalah
www.fatihsyuhud.com

Kolom Surat Pembaca di media koran atau majalah menjadi peluang bagi kita untuk berkomentar seputar berita hangat atau opini yang dimuat dalam sebuah media terkait.

Petunjuk dan aturan berikut umum berlaku pada sebagian besar media massa:

– isi padat dan singkat (sekitar 250 kata atau kurang).
– biodata harus jelas dan lengkap. Seperti nama lengkap, alamat rumah, dan nomor telpon.
– tidak memakai attachment. Tulis langsung dalam email.
– di subject email tulis “Surat Pembaca”.
– media berhak untuk mengedit, menyingkat atau menolak surat Anda.
– Surat Anda harus eksklusif pada satu media. Jangan dikirim ke media lain kecuali kalau jelas di media tsb.
– Sebagian media seperti KOMPAS biasanya mengontak Anda (via email) apabila tulisan Anda ditolak.
– Surat terbuka yg ditujukan ke pihak ketiga, misalnya ke perusahaan atau layanan tertentu, disebagian media biasanya ditolak. Catatan: Umumnya media massa cetak di Indonesia baik koran atau majalah alamat email untuk surat pembaca sama dg alamat email untuk mengirim tulisan. Anda bisa melihat daftar emailnya di link di bawah. Untuk media massa cetak Indonesia lihat di sini

Sedangkan di media berbahasa Inggris luar negeri, email untuk mengirim Surat Pembaca dan artikel op-ed berbeda. Berikut alamat email Surat Pembaca media berbahasa Inggris luar negeri (data ini tidak lengkap, silahkan ditambah di komentar apabila Anda punya alamat email Surat Pembaca media luar negeri yg lain):

Globe and Mail
E-mail: letters@globeandmai l.com
Fax: 416.585.5085

National Post
E-mail: letters@nationalpos t.com
Fax: 416.442.2209
Tel: 416.383.2300

Local Media
Vancouver Sun
E-mail: sunletters@png. canwest.com
Fax: 604.605.2522
Tel: 604.605.2184

Vancouver Province
E-mail: provletters@ png.canwest. com
Fax: 604.605.2099
Tel: 604.605.2029

Georgia Straight
E-mail: letters@straight. com
Fax: 604.730.7010

Other Canadian Media
Toronto Star
E-mail: lettertoed@thestar. ca
Fax: 416.869.4322

Montreal Gazette
E-mail: letters@thegazette. canwest.com
Fax: 514.987.2639
Tel: 514.987.2579

Ottawa Citizen
E-mail: letters@thecitizen. canwest.com

Tip Menulis di Media Massa Cetak atau Online

Tips Menulis di Blog

Basis dan Topik Tulisan

Menulis di Media Cetak Indonesia (5)
www.fatihsyuhud.com

Basis dan Topik Tulisan

Seperti yang sudah disinggung di pada tip sebelumnya, tulisan opini adalah berupa tanggapan dari fenemona yang lagi tren saat ini. Dalam konteks tulisan opini di koran, maka tulisan yang perlu kita tanggapi adalah sebagai berikut:

1. Isi Editorial/Tajuk sebuah media.
2. Headline/Berita utama sebuah media.
3. Tulisan opini.
4. Hari besar Nasional dan Internasional.

Siapapun yang ingin jadi penulis/pengamat hendaknya tidak pernah melewatkan tiga poin pertama di atas setiap kali membaca sebuah koran. Dan selalu mengingat poin ke empat.
(1) Tanggapan Editorial/Tajuk sebuah media adalah suara atau sikap resmi dari media yang bersangkutan tentang sebuah kasus/kejadian tertentu; sesuai dengan misi media tsb. Menanggapi editorial/tajuk di harian Kompas tentu saja berbeda dengan cara kita menanggapi editorial di harian Republika, misalnya. Umumnya menanggapi tulisan editorial/tajuk harus cepat. Idealnya, tanggapan untuk tajuk/editorial hari ini dapat dikirim hari ini juga sehingga dapat dimuat esok harinya di media terkait. Namun, kalau tanggapan kita baru selesai dalam dua hari, teruskan dikirim ke media terkait, karena peluang untuk dimuat masih tinggi terutama untuk media yang tak sebesar Kompas.(2) Tanggapan Headline Media/Berita Utama juga bisa dijadikan pijakan untuk menulis. Jangan lupa untuk mencatat nama media/tanggal/bulan headlines yang kita kutip.

(3) Tanggapan Artikel Opini. Artikel opini dikenal juga dengan istilah artikel OP-ED (singkatan dari opini-editorial). Umumnya artikel OP-ED yang menanggapi artikel OP-ED lain berisi tambahan yang lebih lengkap dari yang dibahas sebelumnya atau menentang artikel yang ditanggapi.
(4) Hari besar nasional/internasional adalah tulisan yang isinya berkaitan dengan hari besar pada saat itu. Contoh, pada sekitar 21 Januari mendatang adalah Hari Raya Idul Adha. Siapkan sejak sekarang tulisan yang berkaitan dengan hari idul adha. Dan kirimkan segera ke media sebelum hari H.

Catatan: Umumnya kita mengirim tulisan yang berdasarkan tanggapan atas Editorial atau Headlines pada media yang kita tanggapi. Contoh, tanggapan Editorial/Headlines di Kompas hendaknya dikirim ke Kompas, tidak ke media lain. Namun kalau tidak dimuat di media terkait, tak ada salahnya dikirim ke media lain. Sedangkan untuk artikel OP-ED yang berkaitan dengan hari besar nasional/internasional dapat dikirim ke media mana saja.

Kalau Artikel Tidak Dimuat

Untuk Kompas dan Suara Pembaruan tulisan yang tidak dimuat biasanya mendapat pemberitahuan dari redaksi. Sedangkan di koran-koran lain tanpa pemberitahuan. Umumnya, kalau dalam waktu seminggu tulisan tidak muncul, berarti tulisan kita tidak dimuat dan bisa dikirim ke media/koran lain.

Jangan lupa, tulisan yang sama dapat dikirim ke dua media yang berbeda asal tidak sama segmennya. Contoh, satu tulisan bisa saja dikirim ke media nasional dan media daerah (tentu saja tidak sekaligus di-CC-kan dalam satu email). Tapi jangan sekali-kali mengirim satu tulisan ke dua media yang sama segmennya. Seperti pada dua media nasional atau dua media daerah yang sama. Contoh, Kompas dan Republika (dua media nasional) atau Waspada dan Harian SIB (media daerah Medan).

Sumber: http://www.fatihsyuhud.com

 

Tip Menulis di Media Massa Cetak atau Online

Tips Menulis di Blog

Membina Hubungan dengan Media

Menulis di Media Cetak Indonesia (4)
www.fatihsyuhud.com

Membina Hubungan dengan Media

Salah satu kesalahan terbesar yang pernah saya lakukan sebagai mahasiswa India terjadi pada saat kedatangan presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur (GD) ke India pada 2001. Waktu itu, dia diikuti oleh sejumlah besar rombongan pebisnis dan –ini yang tak saya ketahui sebelumnya– sejumlah pemimpin redaksi media cetak Indonesia.

Waktu itu saya dan Julkifli Marbun, yang sekarang jadi wartawan GATRA, menjadi guide rombongan GD. Kami baru tahu kalau para pemred ikut sewaktu GD mengadakan audisi dengan masyarakat Indonesia di KBRI New Delhi. Waktu itu seluruh pemred diminta oleh GD untuk memperkenalkan diri. Di situ baru saya terperanjat. Mengapa saya dan teman-teman PPI tidak tahu keberadaan mereka? Dan mengapa pihak KBRI tidak memberitahu? Tentu saja kesalahan terbesar ada pada PPI yang tidak menanyakan hal itu, walaupun seandainya pihak KBRI menginformasikan keikutsertaan para pemred itu tanpa ditanya akan lebih diapresiasi.

Setelah acara pertemuan dengan GD selesai dan rombongan pulang ke Tanah Air, kami baru merasakan hilangnya peluang emas sangat besar yang dapat mempengaruhi sepak terjang sejarah peran mahasiswa India di bidang penulisan/pemikiran di masa depan. Ini pelajaran berharga yang semoga tidak terulang di masa depan. Dan dari sini juga dapat dilihat betapa perlunya koordinasi antara PPI dan KBRI, khususnya dalam menginformasikan kedatangan tamu dari Tanah Air. Banyak cara penyampaian informasi kepada kami; termasuk antara lain melalui milis ini. Terutama menyangkut bakal kedatangan rekan-rekan jurnalis dari Tanah Air yang hal itu akan dapat kami manfaatkan semaksimal mungkin.
***

Membina hubungan personal dengan kalangan media Tanah Air, dengan para wartawan khususnya pemred-nya, sangatlah perlu. Dan itu menjadi salah satu trik yang tak kalah pentingnya agar tulisan kita dapat dimuat. Seperti yang saya singgung dalam tulisan sebelumnya, persaingan atau lebih tepatnya kompetisi dalam menulis sangatlah ketat. Rata-rata antara 20 sampai 50 tulisan masuk ke meja redaksi media setiap harinya. Sedang yang dapat dimuat cuma antara dua sampai empat tulisan.

Apabila terdapat 20 tulisan saja yang masuk untuk dimuat besok harinya dan semuanya memenuhi syarat untuk dimuat dari segi relevansi tulisan dan kebaruan idenya, maka biasanya redaksi akan memprioritaskan tulisan yang, pertama, penulisnya sudah terkenal. Kedua, penulisnya sudah kenal pribadi (walaupun belum terkenal). Ketiga, penulisnya belum dikenal tapi tulisannya cukup bagus. Jadi, kita-kita sebagai penulis yang belum terkenal dan belum kenal pribadi dengan tim redaksi hanya mendapat prioritas ketiga. Kesempatan dimuat adalah apabila kelompok pertama atau kedua sedang tidak mengirim tulisan atau tulisannya kurang bagus. Di sinilah relevansinya mengapa membina hubungan personal dengan tim redaksi sebuah media itu perlu dan sangat penting. Dan itulah sebabnya, mengapa saya merasa melakukan kesalahan sangat besar karena melewatkan kesempatan emas kala para pemred itu datang ke New Delhi waktu itu.

Namun demikian, kita hendaknya tidak kecil hati. Stay cool and relax. Tetaplah menulis dan mengirim ke media. Penulis baru yang “bandel” akan mendapat perhatian tersendiri dari redaksi. Dan itu sudah terbukti dari pengalaman rekan-rekan yang tidak kenal sama sekali dengan redaksi tapi tulisan-tulisannya sudah dimuat di media seperti Qisai, Zamhasari Rizqon dan Tasar, dan lain-lain. Ini terjadi karena penulis terkenal di kita kurang produktif dan di situ peluang penulis-penulis baru seperti kita untuk bisa masuk. Sekali tulisan kita dimuat, tulisan-tulisan berikutnya akan mudah diterima walaupun tidak otomatis dimuat.

Membina Relasi via Milis dan Chat Room

Internet telah merubah tatanan konvensional di berbagai lini kehidupan. Kalau dulu, untuk dapat berkomunikasi dan berinteraksi dengan individu di KBRI perlu datang ke rumahnya atau kantor, sekarang via milis inipun kita dapat “ngobrol” dengan mereka; begitu pun mereka dengan kita. Dulu, kita tidak pernah kenal dengan mahasiswa Pune, Bangalore, Hyderabad, dan lain-lain dan masyarakat KJRI Mumbai. Sekarang, kita dengan mudah saling kenal via milis walaupun secara fisik belum bertemu.

Dengan demikian, milis dapat dijadikan sebagai ajang mendekatkan diri dengan kalangan wartawan. Dari milis nasional ppi, saya banyak mengenal mereka yang aktif berdiskusi seperti Satrio Arismunandar dari TRANS TV, Heri Hendrayana alias Gola Gong dari RCTI, Sirikit Syah dari Media Centre, Ramadan Pohan dari Jawa Pos, Elok dan Edna dari Kompas, dan lain-lain. Untuk lebih banyak lagi mengenal kalangan jurnalis ini silahkan bergabung dengan milis mereka seperti jurnalisme@yahoogroups.com, wartawanindonesia@yahoogroups.com, pantau-komunitas@yahoogroups.com, dan lain-lain.

Apabila kita sudah sering berdebat dengan mereka di milis, biasanya hubungan itu bisa terus dilanjutkan via email pribadi dan bahkan dapat diteruskan via chatting atau YM (yahoo messenger). Kalau sudah demikian personal, tidak terlalu sulit tulisan kita dapat menembus media mereka. Irwansyah Yahya, umpamanya, yang sudah kenal dekat via online dengan Rizal (wartawan harian Serambi), atau Rizqon dengan harian Duta Masyarakat, adalah beberapa contoh kecil yang berhasil menjalin hubungan personal dengan media. Selain itu, kelebihan kenal personal seperti ini adalah apabila mereka memerlukan tulisan tentang India, maka mereka akan langsung menghubungi kita untuk membuatnya. Seperti Rizqon Khamami yang sudah sering diminta menulis untuk jurnal Taswirul Afkar, harian Duta Masyarakat, pesantrenvirtual.com, dan lain-lain.

Alumni India dan Media

Alumni India yang secara formal terbentuk berada di Medan. Wadah alumni ini bisa dimanfaatkan secara maksimum untuk mendekatkan diri dengan media. Di samping itu, tanpa dekat dengan media kegiatan alumni India tidak akan diketahui orang. Dan itu, dalam sistem manajemen modern, sangat disayangkan. Jutaan bahkan milyaran dolar dibelanjakan oleh perusahaan terkenal untuk iklan saja, untuk mengangkat citra dan imej barang yang ditawarkan; yang menunjukkan betapa perlunya promosi dan public relation dilakukan. Dengan mendirikan mailing list/milis nasional ppi yang diikuti oleh berbagai tokoh nasional kita, maka DP PPI telah menunjukkan preseden/contoh yang baik bagaimana cara public relation yang efektif dan murah.

Individu yang bersikap low profile itu baik. Akan tetapi, institusi haruslah high-profile dan penuh hiruk pikuk. Tidak ada cara lain untuk high-profile kecuali dua cara: (a) mengadakan kegiatan menarik, dan (b) mengundang semua media di Medan untuk mengeksposenya. Tanpa ini, suara dan kegiatan alumni India tidak akan terdengar. Dan kalau tidak terdengar, imej mahasiswa India dan pendidikan India tidak akan terangkat. Saya kira Sdri. Rahmanita Ginting, sebagai mahasiswi Mass Communition dapat menyumbangkan kapabilitasnya untuk menyemarakkan kegiatan alumni India di Medan kalau sudah pulang kelak.

Di samping itu, dengan dekat pada kalangan media di Medan, selain untuk mempromosikan institusi dan kegiatan alumni India, juga dapat dimanfaatkan untuk mengenal dan dekat dengan kalangan wartawan yang pada gilirannya dapat mempermudah proses dimuatnya tulisan-tulisan kita; atau malah kita akan diminta menulis untuk mereka, bilamana perlu. Promosi dan public relations secara efektif sangatlah perlu. Pendekatan pribadi, secara personal juga perlu dilakukan. Namun, betapa letihnya mulut kita kalau harus berceloteh ke seluruh penduduk Medan satu demi satu hanya untuk menunjukkan bahwa kita itu eksis. Apa yang dilakukan rekan-rekan dengan menerbitkan dan menulis di jurnal JULISA sangat saya apresiasi. Saya bukan tidak tahu atau tidak apresiatif langkah baik dan positif yang Anda lakukan.

Namun, saya sangat menyayangkan apabila alumni hanya berhenti sampai di situ, karena saya melihat kapabilitas dan potensi alumni India di Medan jauh melebihi itu. Dengan kata lain, apa yang dilakukan selama ini belum maksimum. Saya melihat koran-koran di Medan seperti Waspada, SIB, dan lain-lain dipenuhi oleh penulis-penulis dari USU atau universitas swasta yang bukan UISU — markas alumni India. Kalau itu terjadi, alumni India dimuat tulisannya apalagi dengan mengatasnamakan alumni India, sayalah orang pertama yang akan mengucapkan selamat dengan penuh rasa tulus, bangga dan bahagia.[] (bersambung)

Sumber: www.fatihsyuhud.com

Tip Menulis di Media Massa Cetak atau Online

Tips Menulis di Blog

Meresapi Gaya Orang Menulis

Menulis di Media Cetak Indonesia (3)

Meresapi Gaya Orang Menulis

Di bagian sebelumnya disebutkan bahwa cara terbaik memulai menulis adalah LEARN THE HARD WAY. Langsung menulis menurut insting, tanpa belajar teori; bak cowok atau cewek yang rajin menulis diary kala sedang jatuh cinta. Dan langsung dikirim ke media.

Cara lain adalah dengan BANYAK MEMBACA TULISAN/ARTIKEL ORANG yang sudah dimuat. Resapi tutur bahasanya. Teliti cara pengungkapan idenya.

Umumnya tulisan apapun tak luput dari tiga unsur: pengantar, isi dan penutup/kesimpulan. Ketiga unsur ini tak pernah disebut tapi bisa dirasakan. Semakin banyak kita membaca tulisan orang, akan semakin mudah kita menyerap dan membedakan mana yang pengantar, isi dan kesimpulannya; dan semakin mudah kita ‘meneladani’ gaya dan cara ekspresinya.
Biasanya kita akan cenderung meniru gaya penulis tenar yang bentuk dan ide tulisannya paling sesuai dengan ide-ide kita. Rizqon, misalnya, yang cenderung terbawa gaya menulis Ulil Abshar-Abdalla, tokoh muda NU idolanya yang walaupun cuma lulus M.A. sudah sering memberikan general lectures di berbagai universitas beken Amerika seperti di Harvard Univ., Michigan Univ., dan lain-lain. Saat ini, Rizqon tampak sudah pindah meneladani gaya tulisan Saifuddin Zuhri, menteri agama RI era Sukarno yang produktif menulis. Anda bisa melihat gaya baru tulisan Rizqon Khamami ini dalam kumpulan tulisannya di situsnya: http://rizqonkham.blogspot.com

Sedangkan Zamakhsyari Jamil cenderung meniru gaya menulis tokoh pujaannya dari Riau, Tabrani Yunis, bekas tokoh Riau Merdeka, yang kolomnis tetap di koran Riau Pos. Tulisan-tulisan Tabrani Yunis yang slengekan dan tajam tampak mewarnai tulisan ustadz muda KBRI ini. Kumpulan tulisannya yang sudah dipublished maupun belum bisa Anda temui di situsnya http://e-tafakkur.blogspot.com

Saya sendiri, yang kata ayah saya “berotak lemah dan bodoh”, cenderung meniru gaya tulisan yang mudah dipaham orang, kendatipun saya tidak terfokus meniru satu gaya tertentu. Tulisan-tulisan Hamka, Amin Rais, Jalaluddin Rahmat sangat mudah dicerna otak saya yang lamban, dan mungkin sedikit banyak mempengaruhi gaya saya menulis.

Bagi Anda yang mulai teraspirasi dengan tulisan tokoh-tokoh terkenal nasional, silahkan berbagi pengalaman dengan menuliskannya di sini atau ke email saya. (bersambung…)

Sumber: www.fatihsyuhud.com

Tip Menulis di Media Massa Cetak atau Online

Tips Menulis di Blog